Posts

Masih di Angkot

#Curhat Paling sebal kalau naik angkutan umum (angkot, kopaja, metromini), jumlah penumpangnya sedikit atau hampir kosong. Beberapa alasannya adalah : Angkot jalannya jadi pelan-pelan seperti keong, supirnya ingak-inguk cari penumpang di jalan. Kalau kebetulan si sopir melihat ada orang lagi jalan keluar gang atau cabang jalan, pasti ditungguin. Padahal orang itu belum tentu ingin naik angkutan umum tersebut. Akibatnya perjalanan jadi terasa luaaamaaa..... Karena penumpangnya sedikit, suka dioper ke angkot lain yang sejurusan sebelum nyampai di tempat tujuan. Kadang proses pengoperan dilakukan di tengah-tengah jalan, membuat bunyi klakson kendaraan lain saling bersahutan. Yang tadinya duduk, jadi berdiri di angkot yang baru. Paling sebal kalau lagi enak-enak tidur dibangunin untuk ganti angkot, huh.... Pernah juga di oper sampai 3 kali waktu mau ke stasiun, hadeeehhh...untung nggak ketinggalan kereta. Karena penumpangnya sedikit juga, jadi ngetem lama di tengah perjalanan....

"SENTUHAN LUMAYAN”

Image
A few days ago, my sister went traveling to Malaysia . One of the places she visited was a mosque named Masjid Putra. She was amazed by some of the rules that must be obeyed so that visitors can enter the mosque. One of them is about the dress code. When she would go into the mosque, she was told by officials there about how the mosque dressed. In fact my sister was wearing the hijab, apparently tops (shirts) that she wore was not long enough as well. The officer told her to wear a robe (like a toga) that has been provided by the mosque. Long robes and colored pink xixixi And one more thing that makes my sister surprised and frowned, is the one written on the walls of mosques reads "SENTUHAN LUMAYAN”. Hmmm… sound weird for me too, xixixi. She asked a friend of a friend who came from Malaysia , but apparently they are also much less understand its meaning. I wonder what does this ("SENTUHAN LUMAYAN”. ) mean??? Anybody knows? NB : lg bljr boso enggres ae...

Dikira Guru

Image
Entah sudah keberapa kalinya saya dikira seorang guru sekolah. Mungkin gaya dan penampilan saya memang ‘guru banget”. Sama sekali tidak ada tampang eksmud hahahaa Mirip ga...??? :D Waktu pulang dari kantor, dan bertemu segerombolan anak SD saya sering dikasih salam “Assalamu’alaikum Bu…” Sayapun menjawabnya sambil tersenyum. Beberapa kali bertemu dengan pemulung yang masih anak-anakpun mereka menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Sayapun membalasnya dengan hal yang sama. Beberapa bulan yang lalu, ibu-ibu komplek perumahan dekat kos saya, juga mengira saya guru TPA di masjid di lingkungan mereka. Wuah padahal saya belum pernah mengajar ngaji. Kemarin waktu saya membeli cabai di warung depan kos, anak si penjual yang berusia sekitar 5 tahun tiba-tiba salim , dan mencium tangan saya sambil tertawa-tawa dan mengajak ngobrol. Ih…lucu sekali anak itu Sayapun tersenyum lagi. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Hmmm….sepertinya ada seorang guru SD dan guru TPA yang mi...

Ngirit, Pak Eko

Image
Akhir-akhir ini saya lumayan sering mudik ke kampung. Karena harga tiket kereta bisnis dan eksekutif semakin mahal saja, apalagi jika akhir pekan, maka pilihan jatuh menggunakan kereta ekonomi untuk menghemat biaya. Selama beberapa tahun merantau di Jakarta , saya jarang sekali naik kereta ekonomi untuk mudik. Ada beberapa alasan, yang intinya adalah tentang kenyamanan dan keamanan. Yach, mungkin benar istilah ana rega, ana rupa. Saya sudah pernah memposting tentang pengalaman naik KA ekonomi di  Finally...Economy Class+Alone   dan Weekend Kemarin Kali ini saya akan menuliskannya lagi, curhat bo... hehehe gambarnya ngopy di sini Jam 16.00 saya keluar dari kantor. Saya pulang dulu ke kos untuk mandi, dan packing dan menunggu Maghrib. Setelah sholat Maghrib saya baru meninggalkan kos menuju stasiun. Jadwal KA (Serayu Malam) yang tertera di tiket KA saya 20.25 WIB dari Stasiun Kota. Tapi saya tidak naik KA di Stasiun Kota , melainkan di Sta. Pasar Senen, maka ke...

Pagi Hari di Awal Ramadhan

Image
Jalan-jalan pagi sehabis solat Subuh, terutama di hari Minggu, sudah menjadi kebiasaan di kampungku setiap bulan Ramadhan. Berikut foto-fotonya Rukun Indahnya pagi Ombak Bermain petasan Ramainya pantai di pagi hari Masih banyak burung yang berterbangan di sungai Bukit di dekat pantai Mencari ikan Ayo kejar akyu...!!! Mana ikannya ya...? Reboisasi mangrove 

Kompilasi Catatan ke Papua

Image
Hari ke-5 di Timika, Papua Tiba juga di bagian yang paling tidak ingin saya tulis: saatnya meninggalkan pulau terbesar di Indonesia ini. Jadwal penerbangan masih sekitar pukul setengah dua siang, sebenarnya masih ada waktu kalau mau keliling Timika sebentar. Tapi karena sedang puasa, kami memilih tidak ke mana-mana—cukup menikmati suasana hotel saja. Kalau tidak sedang puasa, sepertinya ini momen yang pas untuk wisata kuliner. Dari kemarin sudah membayangkan mencicipi macam-macam makanan di Timika. Ya sudahlah, disimpan dulu keinginan itu—siapa tahu ada kesempatan kembali ke sini. Akhirnya saya hanya berjalan santai di sekitar hotel sambil foto-foto. Suasananya hijau dan tenang. Di pelatarannya tumbuh banyak pohon besar yang rindang, dan yang menarik, setiap pohon diberi papan kecil berisi nama jenis atau spesiesnya. Rasanya seperti sedang jalan-jalan di taman botani versi mini. Adem, rapi, dan bikin betah. Langkah saya pelan-pelan, mencoba menikmati sisa waktu yang ada. Dalam ...

Puasa Pertama di Timika

Image
Hari ke-4, 20110801_Bag.2 (Lanjutan postingan  Hari ke-4, 20110801_Bag.1 ) Setelah melewati check point di Mile 50 dan mulai turun ke dataran rendah, jalur yang saya lewati terasa jauh lebih bersahabat—tidak lagi seterjal sebelumnya. Semakin turun, cuaca ikut berubah: langit makin cerah, kabut perlahan menipis, dan pemandangan di kanan kiri jalan akhirnya terbuka lebar tanpa tirai putih yang menghalangi. Sesekali saya berpapasan dengan penduduk asli yang melintas, menambah warna di perjalanan yang sebelumnya terasa sunyi. Di salah satu sungai yang terlewati, tampak beberapa penambang liar bekerja—tidak banyak, hanya bisa dihitung dengan jari. Hmmm… suasananya campur aduk antara tenang, asing, dan membuat saya terus ingin melangkah lebih jauh. Semakin turun, angka Mile justru makin kecil—tanda bahwa kami benar-benar meninggalkan ketinggian. Memasuki dataran rendah, terlihat tanggul panjang yang membelah aliran sungai menjadi dua. Mengapa harus dipisah? Dugaan saya, agar tidak ...