Terbang ke Bumi Cendrawasih
Alhamdulillah… akhirnya sampai juga di Bumi Cendrawasih, Papua.
Perjalanan yang dulu cuma jadi wacana, sekarang benar-benar kejadian. Terima kasih banyak untuk adikku yang sudah repot mengurus semuanya sampai detail, sehingga aku bisa sampai ke Tembagapura dengan lancar.
Perjalanan kali ini jadi penerbangan paling jauh yang pernah kualami—sekitar enam jam di udara. Lumayan panjang, tapi rasanya campur aduk antara capek, excited, dan masih nggak percaya mau sampai di Papua.
Sepulang kerja aku cuma sempat mampir ke kos sebentar untuk ambil barang. Bawa satu tas plastik isi roti dan brownies buat oleh-oleh, plus satu ransel gunung berisi baju. Nggak banyak, tapi cukup. Kondisi badan sebenarnya lagi kurang enak—demam dan pilek—tapi rasanya sayang banget kalau kesempatan langka ini dilewatkan. Masuk ke area tambang ini kan nggak gampang, perizinannya juga ribet. Jadi mau nggak mau harus tetap berangkat.
Untungnya adikku sudah menyiapkan semuanya dengan rapi. Jadwal perjalanan, alur keberangkatan, sampai hal-hal kecil yang mungkin bakal bikin bingung kalau diurus sendiri. Tinggal dijalani saja.
Sepanjang perjalanan rasanya lebih banyak takjubnya. Membayangkan akan sampai di pegunungan tertinggi di Indonesia, di tempat yang selama ini cuma kulihat di berita dan cerita orang.
Dan sekarang… aku benar-benar sudah di sini.
Di Tembagapura.
Di udara dingin pegunungan yang langsung bikin kangen selimut.
Perjalanan jauh, badan kurang fit, dan proses yang panjang langsung terasa terbayar. Rasanya cuma bisa bilang, “Alhamdulillah, akhirnya sampai.”
![]() |
| Dari Jakarta ke Papua |
Saya terbang menggunakan pesawat Airfast Indonesia. Alhamdulillah, setelah semua persiapan yang cukup panjang dan kondisi badan yang kurang fit, akhirnya benar-benar duduk manis di dalam pesawat ini.
Adik sudah memesankan kursi di bagian depan dekat jendela, posisi yang jarang sekali saya dapatkan. Biasanya kalau naik pesawat komersial, saya kebagian kursi di area sayap dengan tiga deret bangku. Kali ini terasa lebih spesial. Begitu duduk, langsung terasa bedanya—jarak antar kursi lebih lega, kaki bisa bebas bergerak. Mau selonjor sedikit, menyilangkan kaki, atau sekadar memindahkan tas ke bawah tanpa harus berdesakan, semuanya tetap nyaman.
Pesawat take off tepat pukul 21.45 WIB. Tanpa delay. Rasanya menyenangkan sekali berangkat sesuai jadwal, apalagi ini penerbangan malam yang cukup panjang. Kabin perlahan tenang, lampu diredupkan, dan dari jendela terlihat lampu-lampu kota yang makin lama makin kecil, lalu hilang ditelan gelapnya langit.
Pramugarinya ramah dan pembawaannya menenangkan. Terlihat seperti pramugari senior yang sudah sangat berpengalaman. Cara mereka melayani penumpang membuat suasana terasa hangat, tidak kaku.
Saya bersandar di kursi, mencoba menikmati perjalanan. Badan memang masih kurang enak karena demam dan pilek, tapi rasa lelah itu tertutup oleh perasaan tidak percaya—saya benar-benar sedang menuju Papua. Perjalanan terjauh dan penerbangan terlama yang pernah saya alami.
Di bawah sana mungkin orang-orang sedang terlelap, sementara saya berada di atas awan, pelan-pelan mendekati tempat yang selama ini hanya saya dengar dari cerita.
Beberapa menit setelah pesawat stabil di ketinggian jelajah—kalau tidak salah sekitar 31.000 feet seperti yang diumumkan dari kabin—pramugari mulai berkeliling membagikan permen. Ritual wajib sebelum telinga mulai “protes”. Tidak lama kemudian, makanan datang.
Dan… wow, ini sih di luar ekspektasi.
Seporsi bihun goreng hangat lengkap dengan tofu goreng dan telur rebus. Buah potong—semangka, pepaya, melon—yang segar. Ditambah pie buah yang manisnya pas. Minumnya juga bebas pilih: kopi, teh, cola, jus, dan lain-lain. Tapi saya tetap setia dengan air putih. Bukan sok sehat, tapi lebih ke strategi supaya tidak bolak-balik ke toilet 😄
Sempat kepikiran mau foto makanannya, tapi… ya sudahlah, gengsi.
Menurut saya, pelayanannya tidak kalah dengan Garuda Indonesia. Jauh dari pengalaman saya sebelumnya naik Batavia Air yang “hanya” diberi teh hangat, atau Lion Air yang waktu itu tanpa snack. Tapi ya itu berdasarkan jam terbang saya yang masih sedikit juga sih 😊
Transit pertama di Surabaya pukul 22.45, dan tepat jam 23.00 sudah mengudara lagi. Cepat, rapi, tanpa drama. Lalu sekitar satu setengah jam kemudian transit di Makassar. Semua penumpang diminta turun dan menunggu di ruang tunggu Bandara Sultan Hasanuddin dengan menunjukkan tiket untuk mendapatkan semacam struk akses. Security check lagi, tentu saja.
Dua puluh menit kemudian kami boarding lagi. Pesawat sudah bersih, siap terbang, dan kembali tepat waktu.
Setiap take off, telinga saya rasanya seperti ditarik dari dalam. Kali ini lebih parah karena sedang pilek. Budegnya lama, suara seperti datang dari kejauhan. Benar-benar tidak nyaman. Biasanya tidak separah ini. Ditambah perjalanan panjang sejak dini hari—packing, ke kantor, lalu langsung ke bandara—tenaga rasanya terkuras.
Ketika makanan dibagikan lagi di penerbangan Makassar–Timika, saya sudah menyerah. Tidak berselera. Kantuk menang telak.
Saat terbangun, langit di luar jendela berubah warna. Ada semburat merah dengan lapisan awan bertumpuk-tumpuk. Subuh.
Saya langsung tayamum dan salat seadanya di kursi. Pertama kalinya salat di atas awan. Rasanya… campur aduk. Kecil sekali diri ini, tapi dekat sekali dengan langit.
Tidak lama setelah selesai, terdengar pengumuman dari kokpit: pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Mozes Kilangin. Cuaca berawan, hujan, visibility 3 km.
Di luar jendela hanya ada awan. Pesawat beberapa kali menembus lapisan-lapisannya. Baru terasa benar kalimat yang sering saya dengar: di atas awan masih ada awan. Bentangannya seperti lautan tanpa tepi. Saya sempat mencoba mengingat pelajaran geografi—jenis-jenis awan—tapi yang muncul di kepala cuma Cumulonimbus. Sisanya… blank 😄
Semakin rendah, warna hijau mulai terlihat. Hutan Papua terbentang di mana-mana. Luas, pekat, dan terasa sangat “liar”. Sayangnya hujan dan kabut masih menggantung, jadi pemandangannya seperti diselimuti tirai tipis.
Dan di situlah—untuk pertama kalinya—saya benar-benar melihat tanah Papua dari udara.
Perjalanan panjang yang terasa seperti mimpi, akhirnya sampai juga di ujungnya
![]() |
| Moses Kilangin Airport |
Semua berjalan serba cepat. Dari awal adik sudah mengingatkan: harus lincah kalau mau dapat chopper ke Tembagapura. Jadi begitu tiba, saya langsung menuju Visitor Center. Sebagai visitor, saya wajib print ID dulu untuk bisa check in.
Deg-degan? Pasti.
Tapi lega rasanya ketika urusan birokrasi beres. Walaupun ketinggalan chopper M1 dan M2, saya masih kebagian M3. Alhamdulillah. Kalau tidak, saya harus ikut konvoi bus yang waktunya jauh lebih lama.
Dan inilah momen yang dari tadi saya tunggu-tunggu—pengalaman pertama naik helikopter.
Semua harus serba sigap. Begitu penumpang lengkap, baling-baling sudah berputar dan chopper siap terbang. Tidak ada acara santai. Saking buru-burunya, saya sampai tidak sadar sabuk pengaman yang saya pasang ternyata tidak terkunci dengan benar. Untung saja tidak terjadi apa-apa—kalau ingat sekarang malah bikin senyum sendiri 😄
Headset langsung dipakai, suara mesin chopper yang keras mendadak berubah jadi dengungan halus. Jantung masih berdebar, antara takjub dan tidak percaya: ini beneran saya lagi mau terbang ke Tembagapura lewat udara?
Duduk di dekat jendela, saya menatap keluar. Baling-baling berputar makin cepat, badan chopper bergetar halus… lalu perlahan tanah menjauh.
Perjalanan ternyata belum selesai—justru bagian paling serunya baru dimulai. ✨🚁
Sudah malam, adik saya sudah melotot menyuruh saya tidur, karena besok kondisi harus fit jika ingin pergi ke Grasberg Mine dan Heat Road (padahal saya masih flu). Di sini sekarang jam 22:56, kondisi di luar hujan dan sangat dingin
Note : maaf gambarnya sedikit, koneksi internetnya lambat, jadi rada malas upload hehehe



Comments
ditunggu ya postingan selanjutnya,pesan foto burung cendrawasih ya^^
kalau menurut saya nggak bisa dibandingkan sih antara Lion/Batavia dengan Airfast Indonesia. Pertama, meskipun maskapai berjadwal tapi Airfast termasuk maskapai charter karena yang naik cuma yang mempunyai kepentingan atau yang ada hubungan dengan Freeport. Airfast dan Bandara Timika sendiri memang milik Freeport. kedua, frekuensi penerbangan serta pesawatnya nggak sebanyak Lion, Batavia, Sriwijaya, Garuda, dan lain-lain sehingga akan sangat minim delay. kalau untuk masalah makanan di pesawat itu sih tergantung penempatan maskapai sebagai apa? no frills airlines, medium service, atau full service airlines.. no frills ya seperti lion dan airasia, medium service seperti batavia, sriwijaya, dan merpati, sedangkan full service ya seperti garuda..
aduhhh naik chopper-nya juga bikin iriiii.. kok ndak ada foto-fotonya mbak?
keren tuh hidup di pedalaman yang jauh dari peradaban...
ditunggu kisahnya di Papua.. mampir raja ampat nggak sih?
#emangdekeet??
#plaaak
@Tri Setyo : Wah, pengetahuanmu tentang pesawat ini luas ya. Iya bener pake MD-80. Untuk pesawat berbadan ramping, Airfast emang OK. Oh, gitu ya ada jenis2 pelayanan, tapi mengingat harga tiket Lion dan Garuda sepertinya bedanya ga terlalu jauh, jadi saya pikir ya sama saja pelayanannya hehehe
@Tarry : Iya melelahkan, tapi karena belum pernah, ya saya menikmati sekalii ^^
@Rawins : haduh...saya ini cuma main saja di sini, klo lama-lama bisa bokek. Kan makannya beli sendiri, dan harganya...ampuuun dach... Iya, alamnya indah, jauh dari polusi, sejuk dan tenang suasananya. Tapi nda ada mall di sini kekekek
@Gaphe : hahaha...nda tepos ko Phe, lebih tepos naik KA eko kekeke. Raja Ampat jauhhhh dari sini, dan biayanya muahal. Bisa abis tabungan saya selama setahun klo ke sana
dari pengalaman naik Airfast,emang paling the best deh soal pelayanan
maklum kan bawanya bos-bos freeport jadi pelayanan no.1
cuma kekurangannya pakainya pesawat jadul (Type MD) yg udah dari tahun 1990-an
jadi suara mesin bisingnya bukan main