Kerja gak sesuai jurusan, boleh ga ya????

10/19/2010 10:59:00 AM ria haya 0 Comments

Seorang temanku sharing yang isinya kenapa ya di kantor kita tercinta ini, banyak orang bekerja tidak sesuai dengan jurusan yang dibutuhkan?? Aku jawab, sepertinya bukan disini aja dech yang seperti itu. Yach memang di kantorku yang menggeluti pemetaan, karyawannya dari berbagai jurusan, ada yang masih nyambung, ada juga yang ngga nyambung sama sekali. Semua jurusan masuk, asal matanya bisa 3D dan bisa cepat belajar hal yang baru. Tapi aku jadi belajar banyak hal, yang penting adalah keprofesionalan kita dan mau belajar, jadi ngga kalah dengan karyawan yg lain jurusan.

Sebagian orang cenderung menganggap, pekerjaan yang dilakoni seseorang idealnya sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Lebih afdol, begitu kata mereka.

Menurutku ada manfaatnya juga bekerja tidak sesuai bidangnya. Kata temanku "tapi kan jadi nambah-nambah saingan aja, orang yang di luar jurusan, kerja dijurusan kita, mempersempit peluang aja! ". Tapi itulah hidup, kadang tidak sesuai yang kita harapkan, sudah seperti hukum rimba saja, siapa yang kuat dia yang menang atau bertahan, atau seperti hukum seleksi alamnya Om Darwin. Adikku saja bekerja tidak sesuai bidangnya, tapi dia bekerja keras untuk menguasai bidang tersebut dengan sungguh-sungguh. Banyak sekali pengalaman yang dia dapat dibidang baru tersebut, yang mungkin sama sekali tidak dia bayangkan.

Jadi, manfaat pertama adalah menambah wawasan dan cara pandang seseorang menjadi lebih luas. Seperti adikku yang lulusan akuntansi, dia bekerja sebagai assesor, nda nyambung kan.... dan sekarang malah jadi asisten manajer. Ilmu yg dia dapat banyak sekali dan bertaraf internasional pula.
Untuk mengisi lahan kerja yang berlainan dengan bidang ilmu yang dimilikinya, paling tidak akan mencegah seseorang untuk menjadi "katak dalam tempurung". Setuju!!!!

Kedua semakin banyak ilmu yang dia dapat dari bidang lain, membuat seseorang mungkin makin pintar melihat peluang. Misalnya selain bekerja sebagai IT, karena dia pintar ekonomi juga, dia main saham juga atau menjadi pialang saham juga.
Selain itu karena semua jurusan boleh masuk, timbul kompetisi yang makin ketat (semoga aja sich sehat dan sportif). Ga usah jauh-jauh di kantorku anak asli pemetaan kalah dengan anak sosiologi misalnya, karena si beda jurusan itu lebih luwes.

Tapi bukannya memang begitulah hidup? Udah susah-susah belajar ilmu di bangku kuliah, pas nyampe di lapangan lain kenyataan, sedangkan perut kita harus tetep diisi. Mungkin tidak mudah untuk belajar hal yang baru, tapi kita tidak bisa memprediksi masa depan bukan????
Hahahha sok wise bgt sich gw, ya karena hari ini compiku lemot banget,...ya udah sambil nulis aja dech, tentu saja berawal dari BL temanku yang sharing tadi.

Menurut artikel yang gw baca :
Memaksakan agar pekerjaan kita sesuai latar belakang pendidikan bukan hanya hal yang sulit, tapi dapat mematikan kreativitas. Dalam kewirausahaan, contohnya. Tak semua yang kita pelajari di sekolah atau perguruan tinggi harus bisa "dijual". Jika setiap orang mutlak mesti berbisnis sesuai bidang ilmunya, alangkah sesaknya ruang gerak para sarjana untuk menjadi pengusaha karena lahan usaha dibatasi sesuai bidang ilmu mereka.

Ketika ingin berwirausaha, seorang pensiunan jenderal tidak lantas harus berjualan senjata atau membuka kursus bela diri, bukan? Ilmu yang telah dipelajari memang idealnya diamalkan, meski tidak selalu dalam bentuk profesi.
Mengajar bisa menjadi salah satu alternatif agar ilmu itu tidak sekadar menguap. Meski teori yang kita pelajari hanya tersimpan rapi di lemari, toh tidak ada yang sia-sia dari bertambahnya pengetahuan dan mungkin pengalaman hidup kita.

Hmmm...setuju...renungan juga buat diriku sendiri
Mungkin kita malah sebenarnya punya kehlian dibidang lain yang terpendam, yang tidak sesuai dengan jurusan yang kita ambil di bangku kuliah, yang bisa membuat hidup kita lebih baik lagi. Kadang kreativitas muncul dikala keadaan kepepet bukan??

0 komentar: