a first step

Sudah sekitar satu bulan saya bekerja di salah satu SD di desa saya. Salah satu guru dimutasi, jadi mereka kekurangan tenaga. Saya bukan bekerja sebagai guru, karena saya tidak mempunyai ijazah guru. Saya hanya membantu sebagai operator atau semacam bagian administrasi. Walaupun saya mempunyai pengalaman mengajar (waktu masih kuliah dan kerja di swasta), tapi saya tidak punya SIM untuk mengajar (guru SD), jadi saya tidak berani mengajar di kelas. Saya sendiri kebetulan sedang sibuk mengerjakan proyek pemetaan bersama teman-teman. Tapi karena ini adalah sebuah kesempatan belajar hal baru, saya menyanggupi untuk membantu di SD itu. Pagi hari sampai sekitar jam 2 siang saya mengabdikan diri di sekolah. Sore sampai malam hari saya baru mengerjakan proyek saya sendiri. Capek? Tentu saja, tapi Insya Allah saya ikhlas. Kenapa saya katakan mengabdi, tentu saja karena honornya kecil, mungkin hanya cukup untuk membeli pulsa saja hahaha.

Ketika saya masuk, pekerjaan admnistrasi lumayan banyak. Dan hampir semuanya online. Kebetulan juga sedang deadline. Dalam waktu singkat saya harus memahami istilah-istilah pendidikan dan sistemnya, beserta aplikasinya, seperti Dapodik, PIP, sertifikasi, SIMPEG, UKG, PUPNS, dll. Kebetulan semua meminta update. Maka dipastikan saya harus bisa belajar dengan cepat, agar semua tertangani dengan tepat waktu, agar sertifikasi para guru cair, dana BOS turun, dana BSM atau PIP turun, dsb. Bahkan saya harus lembur hampir tiap malam, karena pekerjaan yang menumpuk dan berbarengan itu. Pekerjaan saya sendiri di rumah juga sedang deadline. Bisa dipastikan setiap hari saya hanya tidur sekitar 3-4 jam saja. Tapi karena saya sudah terbiasa lembur dan berusaha mengerjakannya dengan ikhlas, ya saya senang-senang saja bekerja.

Bekerja sebagai Tenaga Kependidikan honorer di SD tidak bisa dijadikan sebagai pekerjaan utama. Honor pertama saya adalah Rp. 200.000;/sebulan, hahahaha. Ditambah karena saya sudah mau lembur dan kurang tidur maka honor saya ditambah Rp. 150.000;. Jadi semua menjadi Rp. 350.000;. Tentu saja honor itu lumayan jauh dengan gaji saya waktu masih bekerja sebagai orang kantoran di Jakarta. Tapi bukankah kadang bekerja itu tidak hanya sekedar berpikir tentang uang saja???
Di SD tempat saya bekerja, semua guru adalah perempuan, hanya satu guru laki-laki saja, guru olah raga,  dan itu juga wiyata bhakti. Dan karena hampir semuanya guru-guru senior dan hampir semuanya gaptek, jadi mereka butuh operator untuk mengerjakan data yang perlu dionlinekan. Sejauh ini saya merasa nyaman, karena saya menganggap semua guru-guru itu sudah seperti orang tua saya sendiri. Karena hampir semuanya seusia orang tua saya.

Teman-teman saya di desa banyak yang kaget dan heran (tidak sedikit yang menyayangkan), melihat saya di rumah, dan bekerja sebagai honorer saja di SD. Tapi tidak sedikit juga yang mendukung. Saya paling hanya menjelaskan saya sedang sangat jenuh dan bosan bekerja kantoran di Jakarta, dan butuh suasana dan hal baru. Ini adalah salah satu keinginan saya. Saya bisa masuk ke dunia pendidikan, dan bisa menyumbangkan tenaga saya. Walau sekarang belum banyak yang bisa saya lakukan, tapi hal ini saya anggap sebagai langkah awal mewujudkan salah satu mimpi saya. Dengan bekerja di salah satu SD di desa saya, mungkin saya juga bisa sekaligus ikut mbangun desa.


Dulu saya ingin sekali ikut program Indonesia Mengajar (klik di sini, untuk postingan ceritanya), tapi tidak mungkin karena terhalang persyaratan. Saya hanya bisa iri saja kepada pengajar-pengajar muda berprestasi itu hahahaha. Yah, walaupun saya tidak sehebat para pemuda-pemuda itu, yang pergi ke pelosok negeri untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi setidaknya saya sudah memulai langkah awal untuk mewujudkan salah satu mimpi saya, dimulai dari desa saya sendiri hehehe.



Kenangan di Setiabudi Building

Tengah malam tadi saya tidak bisa tidur setelah membuat satu postingan tentang Pantai Ayah. Sebelum tidur iseng-iseng saya mengganti profile picture di facebook. Biasanya saya tidak menshare jika saya mengganti foto profile, atau hanya ‘Only Me’ yang saya pilih di Edit Privacy-nya. Kali ini saya tidak mengeditnya, membiarkan foto itu muncul di timeline. Rupanya ada juga beberapa teman yang memberi jempol atau berkomentar. Kebanyakan  adalah teman-teman  lama, teman seperjuangan di awal meniti karir di Jakarta. Yah, mereka sedikit bernostalgia dengan lokasi saya berada di foto itu, ‘Setiabudi Building’. Tepatnya sich Setiabudi One.

Salah satu sudut taman di Setiabudi One

Setiabudi One merupakan tempat hiburan modern, yang terletak di Kuningan Central Business District, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Berbagai fasilitas yang disediakan di sini untuk memenuhi kebutuhan orang-orang bisnis. Tempat ini adalah tempat yang ideal untuk pertemuan bisnis, makan siang, dan makan malam atau hanya nongkrong dengan teman-teman lama. Setiabudi One menawarkan berbagai pilihan kafe dan restoran dengan berbagai suasana, makanan dan harga.

Sebagai pusat hiburan, Setiabudi One juga secara eksklusif difasilitasi dengan 4 bioskop studio, dikelola oleh Studio 21, dan LaForca Pool & Lounge, Fit oleh pusat kebugaran Beat, Kaizen 10 Menit Hair Cut, Duta Musik Indonesia, Edisi Book Store, Guardian, dan Impulse (http://www.jsi.co.id/pfSetiabudiOne.php)

Hampir setiap hari saya melewati  Setabudi One. Berangkat dan pulang kerja saya hampir selalu melewati tempat ini. Gedung ini seperti menjadi jalan alternatif atau semacam shortcut menuju kantor saya di Plaza 89, yang berjarak sekitar 100 meter dari Setiabudi One. Jika pulang kerja, kadang mampir dulu di tempat ini. Membeli roti atau kue, mengambil uang di ATM, membeli snack, menonton film di bioskop atau hanya sekedar mampir untuk melihat jadwal tayang film-film, terkadang hanya sekedar duduk-duduk saja di taman, seperti foto profil saya hahaha.

Setiabudi Building (foto jadul)

Hmmm...Banyak kenangan di gedung ini.
  1. Makan siang di Puput. Ini adalah satu-satunya restaurant yang saya pernah masuki di gedung ini. Dan pertama kalinya saya makan di restaurant selama saya di Jakarta ya di sini tempatnya. Itu saja di traktir oleh kantor hahaha. Untuk semua intake baru yang sudah berhasil menyelesaikan training dengan baik dan lulus, maka seluruh jajaran management beserta Big Boss akan mengajak para newbie untuk makan di restaurant ini. Sebagai wong ndeso yang baru menginjakan kaki beberapa minggu saja di Jakarta, tentu saja saya grogi makan di restaurant, takut norak banget, karena tidak mengerti table manner dengan baik. Bahkan saya tidak tau cara memesan makanan di restaurant. Dan tidak tahu ada appetizer, main course, dan dezert. Di tempat inilah saya tau secara nyata istilah-istilah itu artinya apa hahahaha. Saya duduk diapit oleh bos bule, yang membuat saya tidak nyaman sama sekali untuk menikmati makanan, karena keterbatasan Bahasa Inggris saya hahahaha. Jadi kalau ditanya rasa makanannya seperti apa, saya tidak ingat, karena saya tidak menikmatinya. Saya hanya ingat saya memesan kepiting goreng tepung, yang langsung diserbu dan habis oleh teman-teman lainnya. Big Boss memesan Nasi Goreng Spesial dengan dua telur. Saya tidak memesan nasi goreng, karena saya bisa membuatnya sendiri di rumah. Puput merupakan Chinese restaurant yang bersih dengan harga makanan cukup terjangkau untuk kalangan bisnis, tapi tidak untuk kantong saya hehehe. Pada jam istirahat restaurant ini penuh
    Puput Restaurant (foto dari sini)
  2. Mengantri di ATM BCA di depan Starbucks Coffee. Beberapa hari sekali bahkan bisa dibilang hampir tiap hari mampir di ATM yang antriannya selalu panjang ini. Entah itu mengantri sendiri atau hanya menunggui teman yang mengantri. Rata-rata dari kami hanya mengambil 50ribu saja sekali gesek. Kami anggap dengan mengambil 50rb maka kami bisa lebih mudah mengontrol pengeluaran uang harian kami hahaha. Modus lain adalah kami bisa ngecengin dengan bebas bule-bule ganteng atau kadang artis yang sedang nongkrok di Starbucks :D. Sambil ngantri sambil cuci mata wkwkwkwkw
  3. Nonton hemat di Setiabudi21 pada hari Senin atau selain weekend. Kalau tidak salah ingat harga tiket menonton bioskop hanya sekitar 10rb-15rb saja. Bisa tetap update melihat film-film terbaru dengan tiket murah dan bioskop yang nyaman. Saking hematnya bahkan saya hanya membeli gorengan 2rb saja, terus dibawa masuk dan dimakan bersama teman nonton untuk pengganti popcorn hahaha
  4. Membeli croissant, cake atau roti di Crystal Jade yang terletak di sebelah Starbucks Coffee. Saya suka sekali croissant di tempat ini, menurut saya paling enak. Saya belum menemukan yang lebih enak menurut lidah ndeso saya. Sehabis pulang kerja saya lumayan sering mampir ke Crystal Jade membeli camilan yang saya jadikansebagai  makan malam saya hahaha. Kalau sedang bokek sich hanya membeli gorengan saja
  5. Hanya lewat saja di lorong-lorongnya. Jika saya memakai baju kerja sewaktu pulang kantor atau jam kerja, maka mbak-mbak atau mas-mas di depan pintu restaurant akan ramah sekali menawarkan supaya kita mampir di restaurant mereka. Tapi... jika saya hanya memakai baju biasa dan sendal jepit dicuekin begitu saja hahaha. Kos saya terletak di kawasan permukiman di belakang gedung ini, jadi kadang saya hanya memakai baju ala kadarnya ke gedung ini sekedar untuk membeli sesuatu di Guardian atau membeli camilan di minimarket.
    Lorong di Setiabudi One
  6. Nongkrong atau duduk-duduk santai di taman. Tamannya rindang dan bersih. Ada air mancur di tengah taman kecilnya yang menambah kesegaran. Kadang-kadang saya mampir di gedung ini  hanya sekedar duduk-duduk dan mengobrol santai saja  dengan teman-teman. Entah fengsuinya gimana, tapi di taman ini sejuk ditengah panasnya Jakarta. Angin semilirnya banyak :D. Sambil nongkrong bisa cuci mata, mengamati orang-orang yang lalu lalang lewat. Banyak yang bening mah kalo di sini huehhehe
Setiabudi Building memberikan kenangan tersendiri, walau saya hanya pernah sekali saja makan di salah satu restaurant di sana. Selebihnya hanya nongkrong-nongkrong saja menikmati suasananya. Entah kapan lagi saya bisa ke sana?




Pantai Ayah Sekarang

Sudah lama sekali rasanya tidak berwisata ke Pantai Ayah (Pantai Logending). Mungkin terakhir berkunjung kesana sekitar 10 tahun yang lalu. Rupanya cukup banyak mengalami perubahan. Tempatnya lebih bersih dan ada peningkatan fasilitas. Masjid lebih bagus dan bersih. Warung-warung lebih teratur. Ada jembatan kayu yang panjang di pinggiran sungai, dimana kita bisa berjalan-jalan santai. Ada kuda-kuda yang bisa membawa kita berkeliling pantai (tarif RP 15.000; sekali putaran/bolak-balik). Bahkan sudah tersedia kendaraan-kendaraan ATV jika kita ingin lebih seru menjelajah di atas pasir pantai (Rp 25.000; untuk 5 kali putaran, sekitar 15 menit)

Jelajah pantai dengan ATV
Jembatan di pinggiran sungai (foto dari Panoramio)


Pantai ini merupakan muara dari Sungai Bodo yang memisahkan Kabupaten Cilacap dan Kebumen. Di atas sungai ada sebuah jembatan yang cukup panjang, di mana dari atas jembatan ini kita bisa menikmati pemandangan sungai sampai muaranya yang indah, apalagi di sore hari.

Di pantai ini juga tersedia perahu-perahu nelayan yang bisa membawa kita ke seberang sungai atau menelusuri indahnya muara Sungai Bodo. Cukup membayar Rp.10.000; per orang atau kadang-kadang ada satu rombongan yang  menawar Rp.50.000;per perahu.  Yah, mirip rivercruise di Singapore :D. Kita akan dibawa menjelajah sungai kurang lebih 15-20 menit. Lumayanlah...

Rute naik perahu di Pantai Ayah


Apa saja yang dilihat ketika menelusuri sungai?
  • Di sebelah kiri Pantai Ayah membentang pegunungan karst seperti pegunungan karst yang ada di Gunung Kidul. Jika dilihat dari perahu, penampakannya terlihat seperti di Raja Ampat hahaha

  • Mirip Raja Ampat.... dikit :D

  • Hijaunya hutan payau (mangrove) dimana di atasnya terbang sekawanan burung yang menambah indahnya pemandangan
    Sekawanan burung di atas hutan yang hijau

  • Melihat jembatan dari atas perahu

  • Deretan perahu-perahu nelayan bertengger di sisi barat sungai
Foto ini dari Panoramio (soalnya tidak sempat memfoto sendiri)

  • Di sebelah barat sungai merupakan wilayah Kabupaten Cilacap, lebih dikenal dengan nama Jetis. Di ujung sebelah kanan sungai ada Tempat Pelelangan Ikan (TPI), dimana di sini kita dapat membeli ikan-ikan segar (seafood) atau makan sepuasnya di sini, dengan harga yang cukup murah, apalagi jika kita pandai menawar harganya.
Salah satu sudut di TPI Jetis

Jika berkunjung di sore hari, kita dapat menikmati indahnya matahari sore dan semilir angin pantai yang sepoi-sepoi. Sinar matahari sore yang terpantul ke air membuat sungai berkilauan seperti kristal. Waktu yang terbaik menurut saya sekitar jam 16.30 sampai menjelang maghrib.

Indahmya air yang berkilauan terkena sinar matahari sore

Waktu dulu saya berkunjung kesini, saya berjalan sampai ujung selatan pantai. Di sana banyak terdapat bebatuan besar. Entahlah kalau sekarang, karena rasanya ujung selatan itu terlihat jauh sekali dari pintu masuk pantai

Foto jadul hahaha


Letak Pantai Ayah

Letak Pantai Ayah dari Kota Kebumen, sekitar 45 km kurang lebih 1,5 jam mengendarai mobil

Letak Pantai Ayah dari Kecamatan Adipala (Kab. Cilacap), sekitar 28 km kurang lebih 45 menit mengendarai mobil
Tiket
Untuk tiket masuk ke Pantai Ayah waktu lebaran kemarin Rp. 5.000; per orang

Transportasi
Saya menggunakan mobil pribadi waktu lebaran kemarin ke Pantai Ayah. Kalau untuk kendaraan umum, sekarang saya kurang paham. Kebanyakan orang ke sini menggunakan kendaraan pribadi atau motor.
Saya pernah menggunakan angkutan umum, tapi itu 10 tahun yang lalu. Saya naik bis kecil berpintu satu di Jalan Raya Gombong-Jatijajar. Saya naik di sekitar perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kebumen (Jalan Raya Kebumen - Cilacap yang merupakan jalan nasional). Karena bis kecil itu tidak sampai ke pantainya, saya sambung dengan menumpang semacam omprengan bersama dengan para pedagang sayur sampai di depan loket pintu masuk Pantai Ayah hahaha. Sepertinya lebih seru naik angkutan umum yah jika suka berpetualang.


Note : Semua foto merupakan dokumen pribadi, kecuali yang ada keterangan Panoramio

Ini hak aku kok!

Salah satu teman saya ‘mencak-mencak’ di facebook, yang isinya dia sedang sangat kesal naik kereta  api Purwojaya. Tapi bukan kesal dengan keretanya, melainkan dengan penumpang di sebelahnya. Ceritanya dia akan meletakan barang-barang bawaannya di rak (bagasi)  yang terletak di atas tempat duduknya. Tetapi ternyata di atas tempat duduknya, sudah nangkring tas orang lain, yaitu tas milik penumpang di kursi sebelahnya. Lalu dia bertanya “Barang siapa ya?”. Lalu sang pemilik tas, seorang mbak-mbak, dengan entengnya menjawab  "Barang-barang saya, kenapa???". Akhirnya berdebatlah mereka. Seru tuch sepertinya. Menurut pendapat teman saya itu, kalau di atas tempat duduk simbaknya dah ga muat, barang-barangnya ya ditaruh saja dikaki mbaknya sendiri. Mbak-mbak penumpang disebelahnya rupanya sewot dan nyindir-nyidir terus. Teman saya bilang dia hanya memperjuangkan haknya. Hmmm....
Itu menurut cerita yang saya baca di facebook.

Saya sudah sering mengalami kejadian yang sama, di kereta yang sama. Di atas tempat duduk saya sudah nangkring tas penumpang lain. Biasanya saya hanya geser sedikit saja, atau sebisa mungkin geser-geser (barang yang di rak) sehingga barang bawaan saya akhirnya punya tempat. Yang penting tas saya masih berada dalam jangkauan mata saya. Jika tidak kebagian saya meletakkannya di kaki saya (itu jika ada barang-barang penting). Saya tidak mau repot-repot berdebat dengan penumpang lain. Saya jarang sekali berdebat di kereta. Jika ingin mengalah saya akan mengalah, jika tidak, ya saya bilang saya tidak mau, itupun jika saya sedang tidak enak badan (tapi tidak berdebat :D). Tergantung situasi dan kondisi. Seringkali malah saya disuruh pindah tempat duduk, karena biasanya ada satu keluarga yang terpisah. Jika itu anak kecil atau orang tua, saya akan mau pindah tempat duduk, walau manyun. Karena tempat duduk saya yang tadinya disebelah jendela, jadi ditukar di pinggir jalan. Tapi jika yang meminta tempat duduk masih muda atau usianya tidak jauh dengan saya, saya tidak mau pindah. Misalnya dia ingin bersama temannya, atau dia ingin bersama suami/istrinya. Enak saja, saya sudah pesan tiket jauh-jauh hari agar bisa memilih tempat duduk yang menurut saya nyaman, malah disuruh pindah. Kecuali kursi yang ditawarkan setara atau lebih bagus dari tempat duduk saya, mungkin bisa dipertimbangkan hehehe. Lagipula sekarang harga tiket kereta api berbeda-beda. Kursi yang di tengah kadang harganya lebih mahal daripada kursi yang terletak di dekat pintu atau toilet.

Dulu sewaktu masih ada tiket berdiri, saya malah sering dititipi anak kecil (usia balita sampai dengan usia anak SD), karena mereka tidak punya tempat duduk. Terutama jika mudik lebaran. Mau tidak mau saya menerimanya, walau kenyamanan selama perjalanan menjadi terganggu. Saya sebal dengan orang tuanya sich kadang-kadang karena tidak prepare dengan baik ketika bepergian sehingga tidak kebagian tiket (yang mempunyai nomor kursi) untuk anaknya. Dan kaki sayapun tidak bisa bergerak, karena titipan barang-barang mereka juga yang diletakkan di bawah kaki saya. Tapi karena lebaran, dimana semua orang ingin mudik pulang kampung, akhirnya ya saya menerima dan memakluminya. Walau badan saya menjadi pegal-pegal karena pergerakan yang terbatas. Masa saya membiarkan anak kecil berdiri sepanjang perjalanan, dan saya di sebelahnya tidur nyenyak? 

Sebenarnya memperjuangkan hak kita itu harus sejauh mana sich? Apakah harus saklek? Kebanyakan orang tentunya ingin haknya terpenuhi dengan baik dan semestinya (seharusnya), dan hampir  semuanya semangat untuk memperjuangkan hak-haknya. Bukankah dalam hak kita, kadang ada hak orang lain juga? Manakah yang harus dipenuhi terlebih dahulu? Lalu bagaimana dengan yang namanya kewajiban dan toleransi? Mesti membuka dan membaca kitab suci (Al Qur’an) dan UUD ’45 nich sepertinya. Hmmm....


Ah pusing saya... Yang saya ingat, hak hanya milik Allah swt saja, kita hanya melaksanakan kewajiban.


Kampung semakin ramai saja

Akhir-akhir ini ibuku dan ibu-ibu yang lain suka bercerita kalau mereka sudah mulai kesusahan dan takut menyeberang di jalan raya di dekat rumah, mungkin di jalanan lainnya juga. Apalagi pada sore hari (bedug sore istilah jawanya). Motor dan mobil berseliweran dengan kencang. Sehingga seringkali mereka harus  dibantu menyeberang, karena bisa lebih dari 10 menit mereka diam saja di pinggir jalan, takut menyeberang.

Yah memang setahun terakhir ini jalan raya di desa (jalan kecamatan atau jalan lokal, jalan kabupaten, jalan provinsi, bahkan jalan nasional di kampungku ini) semakin ramai. Semakin banyak mobil pribadi kinclong bersliweran, bahkan masih berplat merah dengan tanda X dengan background putih alias masih baru banget dan belum punya STNK (plat hitam). Jalanan juga mulus, hingga orang-orang mungkin lebih tergoda untuk mengendarai mobil/motor dengan kecepatan tinggi, seperti di jalan tol. Dulu selain Avanza atau APV jarang sekali mobil jenis lain yang lewat. Sekarang sudah semakin banyak jenis mobil yang melaju di jalanan kampung, dan hampir semuanya kinclong. Ada fortuner, pajero, CRV, jazz, mazda 2, yarris, hilux,agya, aila, grand livina, taruna dan mobil-mobil lainnya (pickup). Warnanya juga tidak melulu hitam atau silver lagi. Merah, putih sudah mendominasi jalanan. Bahkan warna-warna lainnya seperti biru, hijau, pink, orange, juga sudah mulai berkeliaran. Apalagi motor, semakin banyak tentu saja.

Jalanan di kampung yang semakin ramai
(Yang motret adek)

Jika aku bertemu teman-teman mereka juga hampir rata-rata sudah mempunyai mobil pribadi. Di jejaring sosial  (sosmed) juga banyak yang pasang profil sedang menyetir (selfie). Perempuan yang paling banyak hahaha.

Sepertinya saat ini mobil sudah merupakan gaya hidup. Ataukah mobil sekarang sudah masuk kebutuhan primer?  Masihkah tergolong barang mewah? Apakah di negeri ini golongan menengah ke atas sudah tambah meningkat, hingga banyak yang mampu membeli mobil pribadi? Apakah memang harga BBM masih terlalu murah? Atau keadaan ekonomi negeri ini memang semakin membaik? Atau makin mudahnya kredit mobil dengan DP ringan, dengan jangka waktu mengangsur yang semakin lama? Hmmm...entahlah. Saya sudah jarang menonton berita di televisi

Waktu main ke KL, di sana jarang dijumpai sepeda motor berseliweran di jalanan. Sepeda motor juga sepertinya bisa masuk melewati jalan tol. Infra struktur di sana bagus dan macetnya tidak separah Jakarta. Jenis mobil (merk) juga sepertinya lebih banyak dari di Indonesia. Tapi kata teman, di sana jika membeli mobil kebanyakan kredit, atau jika tidak salah ingat diwajibkan kredit. Cmiiw


Kalau kamu membeli mobil karena apa? Kalau saya karena orang tua yang minta. Mereka sudah semakin tua  (sudah mulai sering sakit), dan kasihan jika pergi kondangan atau bersilaturahmi kehujanan atau kepanasan. Naik motor sudah semakin takut, karena jalanan samakin ramai. Bahkan bapak ibu pernah diseruduk oleh motor lain (tabrak lari), sampai jatuh terguling-guling dan pingsan di jalan. Dan tidak ada yang berani menolong selain aparat polisi. Walau kita sudah merasa berhati-hati berkendara di jalan raya, kalau orang lain masih seenaknya saja berkendara di jalanan, itu tidak menjamin tidak terjadi kecelakaan di jalan raya. Kemarin ada anak SMA yang meninggal karena ngebut dan menabrak pedagang naik sepeda membawa keranjang di boncengannya. Mungkin karena ngebut, jatuh terpelanting dengan keras, walau hanya menyenggol sepeda. Pedagangnya sich tidak apa-apa. Dulu sore-sore begini paling hanya terdengar suara anak bermain, binatang ternak yang mulai ribut masuk kandang, atau suara angin sepoi-sepoi. Sekarang sudah mirip suasana kosku di Jakarta. Terdengar banyak suara motor ngebut di jalan raya, yang hanya sekitar 100m dari rumahku. Jalan hanya sepi waktu pagi atau malam saja.

Selamat Sore.....