Kenangan di Setiabudi Building

8/26/2015 11:39:00 AM ria haya 0 Comments

Tengah malam tadi saya tidak bisa tidur setelah membuat satu postingan tentang Pantai Ayah. Sebelum tidur iseng-iseng saya mengganti profile picture di facebook. Biasanya saya tidak menshare jika saya mengganti foto profile, atau hanya ‘Only Me’ yang saya pilih di Edit Privacy-nya. Kali ini saya tidak mengeditnya, membiarkan foto itu muncul di timeline. Rupanya ada juga beberapa teman yang memberi jempol atau berkomentar. Kebanyakan  adalah teman-teman  lama, teman seperjuangan di awal meniti karir di Jakarta. Yah, mereka sedikit bernostalgia dengan lokasi saya berada di foto itu, ‘Setiabudi Building’. Tepatnya sich Setiabudi One.

Salah satu sudut taman di Setiabudi One

Setiabudi One merupakan tempat hiburan modern, yang terletak di Kuningan Central Business District, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Berbagai fasilitas yang disediakan di sini untuk memenuhi kebutuhan orang-orang bisnis. Tempat ini adalah tempat yang ideal untuk pertemuan bisnis, makan siang, dan makan malam atau hanya nongkrong dengan teman-teman lama. Setiabudi One menawarkan berbagai pilihan kafe dan restoran dengan berbagai suasana, makanan dan harga.

Sebagai pusat hiburan, Setiabudi One juga secara eksklusif difasilitasi dengan 4 bioskop studio, dikelola oleh Studio 21, dan LaForca Pool & Lounge, Fit oleh pusat kebugaran Beat, Kaizen 10 Menit Hair Cut, Duta Musik Indonesia, Edisi Book Store, Guardian, dan Impulse (http://www.jsi.co.id/pfSetiabudiOne.php)

Hampir setiap hari saya melewati  Setabudi One. Berangkat dan pulang kerja saya hampir selalu melewati tempat ini. Gedung ini seperti menjadi jalan alternatif atau semacam shortcut menuju kantor saya di Plaza 89, yang berjarak sekitar 100 meter dari Setiabudi One. Jika pulang kerja, kadang mampir dulu di tempat ini. Membeli roti atau kue, mengambil uang di ATM, membeli snack, menonton film di bioskop atau hanya sekedar mampir untuk melihat jadwal tayang film-film, terkadang hanya sekedar duduk-duduk saja di taman, seperti foto profil saya hahaha.

Setiabudi Building (foto jadul)

Hmmm...Banyak kenangan di gedung ini.
  1. Makan siang di Puput. Ini adalah satu-satunya restaurant yang saya pernah masuki di gedung ini. Dan pertama kalinya saya makan di restaurant selama saya di Jakarta ya di sini tempatnya. Itu saja di traktir oleh kantor hahaha. Untuk semua intake baru yang sudah berhasil menyelesaikan training dengan baik dan lulus, maka seluruh jajaran management beserta Big Boss akan mengajak para newbie untuk makan di restaurant ini. Sebagai wong ndeso yang baru menginjakan kaki beberapa minggu saja di Jakarta, tentu saja saya grogi makan di restaurant, takut norak banget, karena tidak mengerti table manner dengan baik. Bahkan saya tidak tau cara memesan makanan di restaurant. Dan tidak tahu ada appetizer, main course, dan dezert. Di tempat inilah saya tau secara nyata istilah-istilah itu artinya apa hahahaha. Saya duduk diapit oleh bos bule, yang membuat saya tidak nyaman sama sekali untuk menikmati makanan, karena keterbatasan Bahasa Inggris saya hahahaha. Jadi kalau ditanya rasa makanannya seperti apa, saya tidak ingat, karena saya tidak menikmatinya. Saya hanya ingat saya memesan kepiting goreng tepung, yang langsung diserbu dan habis oleh teman-teman lainnya. Big Boss memesan Nasi Goreng Spesial dengan dua telur. Saya tidak memesan nasi goreng, karena saya bisa membuatnya sendiri di rumah. Puput merupakan Chinese restaurant yang bersih dengan harga makanan cukup terjangkau untuk kalangan bisnis, tapi tidak untuk kantong saya hehehe. Pada jam istirahat restaurant ini penuh
    Puput Restaurant (foto dari sini)
  2. Mengantri di ATM BCA di depan Starbucks Coffee. Beberapa hari sekali bahkan bisa dibilang hampir tiap hari mampir di ATM yang antriannya selalu panjang ini. Entah itu mengantri sendiri atau hanya menunggui teman yang mengantri. Rata-rata dari kami hanya mengambil 50ribu saja sekali gesek. Kami anggap dengan mengambil 50rb maka kami bisa lebih mudah mengontrol pengeluaran uang harian kami hahaha. Modus lain adalah kami bisa ngecengin dengan bebas bule-bule ganteng atau kadang artis yang sedang nongkrok di Starbucks :D. Sambil ngantri sambil cuci mata wkwkwkwkw
  3. Nonton hemat di Setiabudi21 pada hari Senin atau selain weekend. Kalau tidak salah ingat harga tiket menonton bioskop hanya sekitar 10rb-15rb saja. Bisa tetap update melihat film-film terbaru dengan tiket murah dan bioskop yang nyaman. Saking hematnya bahkan saya hanya membeli gorengan 2rb saja, terus dibawa masuk dan dimakan bersama teman nonton untuk pengganti popcorn hahaha
  4. Membeli croissant, cake atau roti di Crystal Jade yang terletak di sebelah Starbucks Coffee. Saya suka sekali croissant di tempat ini, menurut saya paling enak. Saya belum menemukan yang lebih enak menurut lidah ndeso saya. Sehabis pulang kerja saya lumayan sering mampir ke Crystal Jade membeli camilan yang saya jadikansebagai  makan malam saya hahaha. Kalau sedang bokek sich hanya membeli gorengan saja
  5. Hanya lewat saja di lorong-lorongnya. Jika saya memakai baju kerja sewaktu pulang kantor atau jam kerja, maka mbak-mbak atau mas-mas di depan pintu restaurant akan ramah sekali menawarkan supaya kita mampir di restaurant mereka. Tapi... jika saya hanya memakai baju biasa dan sendal jepit dicuekin begitu saja hahaha. Kos saya terletak di kawasan permukiman di belakang gedung ini, jadi kadang saya hanya memakai baju ala kadarnya ke gedung ini sekedar untuk membeli sesuatu di Guardian atau membeli camilan di minimarket.
    Lorong di Setiabudi One
  6. Nongkrong atau duduk-duduk santai di taman. Tamannya rindang dan bersih. Ada air mancur di tengah taman kecilnya yang menambah kesegaran. Kadang-kadang saya mampir di gedung ini  hanya sekedar duduk-duduk dan mengobrol santai saja  dengan teman-teman. Entah fengsuinya gimana, tapi di taman ini sejuk ditengah panasnya Jakarta. Angin semilirnya banyak :D. Sambil nongkrong bisa cuci mata, mengamati orang-orang yang lalu lalang lewat. Banyak yang bening mah kalo di sini huehhehe
Setiabudi Building memberikan kenangan tersendiri, walau saya hanya pernah sekali saja makan di salah satu restaurant di sana. Selebihnya hanya nongkrong-nongkrong saja menikmati suasananya. Entah kapan lagi saya bisa ke sana?



0 komentar: