Kenangan di Setiabudi Building

Tengah malam tadi aku tak juga bisa memejamkan mata setelah mengunggah tulisan tentang Pantai Ayah. Iseng sebelum tidur, kuganti foto profil Facebook. Biasanya, setiap kali mengganti foto, aku memilih opsi Only Me atau sekadar tidak membagikannya ke linimasa. Tapi kali ini kubiarkan saja—biar muncul begitu saja.

Ternyata ada juga beberapa teman yang mampir, memberi jempol, meninggalkan komentar. Kebanyakan teman lama, kawan seperjuangan saat pertama meniti karier di Jakarta. Kami pun sedikit bernostalgia lewat satu bingkai foto itu. Mereka langsung mengenali lokasinya—Setiabudi Building. Lebih tepatnya, Setiabudi One.

Dan dari sanalah, kenangan-kenangan kecil seperti ikut terbangun di tengah malam yang belum juga mau usai.


Salah satu sudut taman di Setiabudi One

Setiabudi One itu semacam “ruang tamu” modern di kawasan Kuningan Central Business District, persis di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Tempat yang selalu hidup dari pagi sampai malam, seolah tahu betul kebutuhan para pekerja kantoran di sekitarnya—mau meeting serius bisa, makan siang santai oke, makan malam sambil cerita panjang juga hayuk, atau sekadar duduk tanpa tujuan jelas.

Pilihan kafe dan restorannya banyak, dengan suasana yang beda-beda. Tinggal menyesuaikan saja: lagi ingin hemat, ingin nyaman, atau ingin yang agak fancy sekalian. Hiburannya juga lengkap. Ada bioskop Studio 21 dengan empat studio, LaForca Pool & Lounge, tempat gym, salon cepat 10 menit, toko buku, toko musik, Guardian, sampai tempat jajan kecil-kecil yang sering jadi penyelamat di tanggal tua.

Hampir setiap hari aku melewati Setiabudi One. Berangkat kerja lewat, pulang kerja lewat lagi. Rasanya seperti shortcut menuju kantor di Plaza 89 yang jaraknya cuma sekitar seratus meter. Karena terlalu sering dilewati, tempat ini jadi terasa dekat—bukan cuma dekat secara lokasi, tapi juga dekat secara rasa.

Sesekali aku mampir. Beli roti atau kue untuk bekal di jalan, ambil uang di ATM, beli camilan, nonton film, atau cuma lihat-lihat jadwal tayang sambil berdiri di depan posternya. Kadang malah cuma duduk-duduk di tamannya tanpa ngapa-ngapain—seperti di foto profilku itu. Duduk, diam, menikmati jeda kecil di tengah hari yang biasanya terburu-buru. 😄


Setiabudi Building (foto jadul)
Hmmm… banyak sekali kenangan di gedung ini.

1. M

akan siang di Puput. 

Satu-satunya restoran yang pernah kumasuki di Setiabudi One. Dan, percaya atau tidak, itu juga pengalaman pertamaku makan di restoran sejak merantau ke Jakarta—dan tentu saja karena ditraktir kantor, hahaha.

Waktu itu ada semacam tradisi: setiap intake baru yang berhasil menyelesaikan training dan dinyatakan lulus, akan diajak makan siang bersama seluruh jajaran manajemen, termasuk Big Boss. Sebagai wong ndeso yang baru beberapa minggu menginjakkan kaki di Jakarta, rasanya campur aduk. Grogi, kikuk, takut kelihatan norak karena tidak paham table manner. Jangankan itu, cara memesan makanan di restoran saja belum tahu. Appetizer, main course, dessert—istilah yang sebelumnya cuma kudengar, hari itu baru benar-benar kutemui dalam bentuk nyata. Hahaha.

Aku duduk diapit dua bos bule. Alih-alih menikmati makanan, aku malah sibuk menenangkan diri sendiri. Bahasa Inggrisku yang pas-pasan membuatku lebih banyak tersenyum dan mengangguk. Jadi kalau ditanya rasa makanannya seperti apa, jujur saja… aku tidak ingat. Karena memang tidak sempat menikmatinya.

Yang masih kuingat justru momen-momen kecilnya. Aku memesan kepiting goreng tepung—yang kemudian langsung diserbu teman-teman dan habis dalam sekejap. Big Boss memesan nasi goreng spesial dengan dua telur. Aku? Tidak memilih nasi goreng, karena merasa bisa membuatnya sendiri di rumah. Polos sekali ya, hahaha.

Puput itu restoran Chinese yang bersih dan nyaman. Harganya sebenarnya masih masuk akal untuk kalangan pebisnis di sekitar Kuningan—tapi jelas tidak ramah untuk kantong anak baru sepertiku waktu itu, hehehe. Setiap jam makan siang, tempatnya selalu penuh. Dan setiap kali melewati restoran itu setelahnya, aku selalu teringat versi diriku yang duduk tegang di antara para bos, pura-pura tenang, sambil berusaha terlihat “Jakarta banget”.

Puput Restaurant (foto dari sini)

2. Mengantri di ATM BCA di depan Starbucks Coffee
Beberapa hari sekali—atau bisa dibilang hampir tiap hari—saya mampir ke ATM BCA yang selalu ramai di depan Starbucks. Entah mengantri sendiri atau cuma menunggu teman yang ambil uang. Biasanya cuma ambil 50 ribu sekali gesek. Katanya sih biar lebih gampang mengontrol pengeluaran harian, hahaha.

Tapi modus lain yang lebih asik: bisa sambil cuci mata. Bule-bule ganteng, atau kadang artis yang nongkrong di Starbucks, bisa jadi tontonan gratis. Sambil ngantri, sambil lihat-lihat, sambil nyengir sendiri. Wkwkwkw.

3. Nonton hemat di Setiabudi 21
Senin atau hari kerja selain weekend adalah waktu emas buat nonton hemat. Tiketnya waktu itu cuma sekitar 10–15 ribu, tapi bisa tetap update dengan film-film terbaru. Bioskopnya nyaman, kursinya empuk. Saking hematnya, saya cuma beli gorengan 2 ribu, terus dibawa masuk buat cemilan pengganti popcorn. Kreatif kan, hahaha.

4. Membeli croissant, cake, atau roti di Crystal Jade
Crystal Jade, persis di sebelah Starbucks, selalu jadi favorit. Croissantnya? Juara menurut lidah ndeso saya. Belum pernah nemu yang lebih enak. Pulang kerja sering mampir, beli camilan, lalu dijadikan makan malam dadakan, hahaha. Kalau lagi bokek? Ya cukup beli gorengan saja, yang penting perut tetap senang.

5. Hanya lewat saja di lorong-lorong gedung
Kalau pakai baju kerja, mbak-mbak atau mas-mas di depan restoran ramah banget, selalu menawarkan supaya mampir. Tapi kalau cuma pakai baju biasa dan sendal jepit? Cuekin saja, hahaha. Kos saya memang di permukiman di belakang gedung, jadi kadang cuma mampir ala kadarnya, sekadar beli sesuatu di Guardian atau camilan di minimarket. Tetap saja terasa seperti bagian dari hidup di gedung ini.


Lorong di Setiabudi One

6. Nongkrong atau duduk santai di taman
Tamannya rindang, bersih, dan ada air mancur kecil di tengahnya yang bikin suasana makin segar. Kadang-kadang saya mampir cuma untuk duduk-duduk santai atau ngobrol ringan sama teman-teman. Entah fengsuinya gimana, tapi di taman ini terasa sejuk meski panas Jakarta sedang tinggi—angin semilirnya juara! :D

Sambil nongkrong, tentu saja cuci mata jadi kegiatan wajib. Banyak orang yang lewat, beberapa memang “bening” semua, huehhehe.

Setiabudi Building memang menyimpan banyak kenangan buat saya. Walau sebenarnya saya cuma sekali makan di restoran di sana, selebihnya hanya nongkrong-nongkrong, menikmati suasana, dan mengamati dunia berjalan. Entah kapan lagi bisa ke sana, tapi setiap kali melewati gedung ini, rasanya seperti berjumpa dengan memori-memori kecil yang hangat.




Comments

My Popular Post

RANGKUMAN DAFTAR GAJI

The Black Country

Bahasa Indonesia di mata Malaysia