Sepenggal Ceritaku di Gerbong 4 No 11 A

12/10/2010 07:28:00 PM ria haya 0 Comments

Malam mulai menyelimuti bumi, hujan tak mau berhenti sejak siang tadi. Dengan enggan wanita muda itu berkemas. Malam ini dia harus balik ke ibukota, besok pagi dia harus kembali bekerja. Libur telah usai.
Dia berpamitan dengan ibunya, mencium tangan dan pipi, meminta didoakan, agar semuanya berjalan lancar dan Tuhan selalu melindungi dan menunjukan jalan di manapun dia berada. Kali ini ibu itu tidak bisa mengantarnya, karena hujan. Yach selama lebih dari 5 tahun, ayah dan ibunya selalu mengantar sampai stasiun kereta api bila wanita muda itu pergi ke ibukota. Mengendarai sepeda motor membonceng ayahnya menembus hujan dia diantar sampai stasiun.
Duduk di sebelah jendela paling disukainya ketika naik kereta api. Setelah melambaikan tangan kepada ayahnya, yang tersisa pemandangan gelap malam. Kereta melaju meninggalkan desanya. Dia masih berusaha untuk terus bersyukur karena dia tidak perlu berdesak-desakan di kereta ekonomi. Gajinya masih cukup untuk membeli tiket kelas bisnis atau eksekutif. Kebiasaannya adalah duduk bersandar memandangi gelap malam di balik jendela sepanjang malam sampai dia tertidur. Berbasa-basi sebentar dengan orang yang duduk di sebelahnya, kemudian melanjutkan lamunannya masih memandang kegelapan di luar jendela. Lampu-lampu dari rumah-rumah di perkampungan sesekali terlihat.
Sisi melankolisnya kembali muncul.
Sambil mendengarkan lagu-lagu dari mp4 yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi disamping HP, pikirannya melanglang buana. Liburan beberapa hari hanya dia habiskan di rumah, bermanja dengan orang tuanya dan membantu ibunya mengerjakan ini itu. Bercerita tentang teman-temannya di kota itu yang sekarang cuma sedikit, tentang keadaan kantornya yang tidak stabil akhir-akhir ini karena kata bosnya kena imbas krisis global, dan berkeluh kesah dengan pekerjaan yang dirasanya sekarang sangat membosankan dan tidak ada kemajuan.
Dia tidak supel, tapi sangat menghargai pertemanan dan persahabatan. Dia senang membuat teman-temannya nyaman bermain dengannya dengan caranya sendiri, walaupun kadang mengorbankan perasaan dan kemauan dirinya sendiri.
Sahabat-sahabat terbaiknya sudah pergi dari ibukota, pergi dengan kehidupan masing-masing. Susah baginya mencari teman-teman yang tulus dan bisa diajak berbagi. Dia kemarin berkeluh kesah kepada ibunya. Bahwa dia sudah bosan dengan pekerjaannya. Dia ingin ganti suasana baru yang membuat dia semakin tertantang dan lebih berguna lagi bagi orang banyak. Pekerjaan yang sekarang memang lebih nyantai sekaligus mentok. Di level pekerjaannya sebagai staff dia sudah mencapai level tertinggi untuk klasifikasi pekerjaannya, dan dia sudah mempertahankannya beberapa tahun. Sudah tidak ada ambisi, tidak ada kompetisi yang dibarengi dengan reward yang baik pula. Dia bertahan menjadi salah satu yang terbaik demi kepuasan pribadinya saja, dan memang begitulah sifatnya sejak kecil. Dia sudah merasa di zona nyaman sekarang ini, dan dia takut jika seperti itu terus otaknya akan membeku, pikirannya tidak berkembang dan dia menjadi pemalas. Karena pekerjaannya sekarang lebih mudah dan hanya sebuah rutinitas.
Dia takut terlalu nyaman di zona nyaman maka dia cenderung akan malas untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Karena perubahan ke arah yang lebih baik biasanya selalu memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, memerlukan efforts, waktu, energi ekstra, kesabaran dan terkadang menguras emosi dan pikiran. Perubahan ke arah yang lebih baik terkadang juga terasa pahit dan menyakitkan bagi sebagian orang. Itulah beberapa alasan yang membuat sebagian besar dari kita cenderung enggan untuk melakukan perubahan di dalam kehidupannya dengan cara diantaranya dengan mencoba untuk menggali dan mengembangkan potensi-potensi lain yang masih kita miliki, dan mungkin kita sendiri tidak menyadari potensi-potensi tersebut.
Dia juga bingung apa saja potensi yang dimilikinya yang masih terbelenggu dan belum berkembang? Karena dia belum pernah keluar dari jalur yang dia kerjakan sekarang, dan ortunya tidak mengijinkan dia keluar kerja begitu saja kalau belum menemukan pekerjaan lain yang lebih baik ataupun belum menikah. Hhhhhh....
Tapi dia berusaha tuk selalu semangat, kuat, dan berpikiran positif. Dia masih bersyukur masih punya pekerjaan dan bisa menabung sedikit demi sedikit
Dalam lamunannya dia mendengar alunan suara M. Arifin Ilham, prolog sebelum lagu Tombo Ati dari Opick. Lagu Islami tsb terselip diantara lagu-lagu dari Muse, Justin Beiber, U2, Chris Brown, Sheila on 7, Sum 41, Chrisye dan ratusan lagu lain di mp4 playernya.

Beginilah isi prolognya

Pribadi Berdzikir
Dzikir menjadi kepribadiannya
Allah tujuannya
Rasulullah menjadi teladan dalam hidupnya
Dunia inipun menjadi surga sebelum surga sebenarnya
Bumi menjadi masjid baginya
Rumah, kantor bahkan hotel sekalipun menjadi mushola baginya
Tempat ia berpijak meja kerja , kamar tidur hamparan sajadah baginya
Kalau dia bicara, bicaranya dakwah
Kalau dia berdiam, diamnya dzikir
Napasnya tasbih
Matanya penuh rahmat Allah, penuh kasih sayang
Telinganya terjaga
Pikirannya baik sangka, tidak sinis, tidak pesimis, dan tidak suka memvonis
Hatinya subbahanalloh diam-diam berdoa, doanya diam-diam
Tangannya brsedekah
Kakinya berjihad, dia tidak mau melangkah sia-sia
Kekuatannya silaturrohim
Kerinduannya tegaknya syariat Allah
Kalau memang hak tujuannya, maka sabar, dan kasih sayang strateginya
Asma amaninna, cita-citanya tertinggi teragung sahid di jalan Allah
Dan sungguh menarik kesibukannya, ia hanya asyik memperbaiki dirinya, tidak tertarik mencari kekurangan apalagi aib orang lain.

Kata-kata prolog tersebut mengingatkannya akan idealismenya dulu, yang mulai pudar dan sulit tuk dia dijalankan sekarang ini. Hmmmm….mungkin dia bisa mulai lagi untuk menjadi pribadi itu.
bersambung..... :)

0 komentar: