20111002 - Part 1

10/03/2011 06:44:00 PM ria haya 4 Comments

Pagi-pagi sekali sehabis solat Subuh saya langsung menuju Stasiun Gambir. Tanpa direncana saya memutuskan untuk menghabiskan hari Minggu saya dengan bersilaturahmi ke rumah sobat lama di Cirebon. Maka daripada itu, pagi-pagi sekali saya bangun,agar tidak tertinggal kereta paling pagi. Dari Pasar Minggu menuju Gambir lumayan jauh jaraknya, jadi agak deg-degan juga menuju stasiun dengan menumpang Kopaja P-20 yang suka berjalan dengan kecepatan seenak supirnya (kadang lambat kayak keong, kadang ngebut seenaknya), dan suka mengoper-oper penumpang pula di tengah jalan. Saya pernah dioper sampai 3 kali, mana ngantuk pula, hadeehhh...cape dech berganti-ganti kendaraan. Tapi demi mengirit ongkos 60 ribu rupiah (ongkos jika saya naik taksi) menjadi 2 ribu rupiah saja, saya merelakan dech badan saya sedikit banyak lebih cape hehehe.

Benar saja sebelum saya sampai di stasiun, saya dioper ke P20 yang lain, hadeehhh, mana waktunya sudah mepet. Untung 15 menit sebelum keretanya berangkat ,saya sudah sampai di stasiun. Dengan berlari-lari kecil, saya menuju loket penjualan tiket langsung, sambil berdoa semoga masih ada tiket bertempat duduk yang tersisa dan semoga antriannya tidak panjang. Doa saya terkabul. Alhamdulillah ya...

Tiket kereta Cirebon Ekspres sudah di tangan. Tapi saya belum punya tiket untuk balik lagi ke Jakarta. Ingin sekaligus pesan saat itu juga tapi waktunya mepet. Sangat tidak lucu kan kalau sampai ketinggalan kereta. Jadi saya putuskan, ah nanti saja mikirnya. Begitu duduk di dalam kereta, saya baru kepikiran, OMG ini kan hari Minggu. Minggu sore biasanya ramai-ramainya arus balik. Ugh...tiketnya biasanya sudah sold out semua. Ah, bodo ah, yang penting berangkat aja dulu. Namanya juga tanpa rencana, ya mengalir aja.

Perjalanan dari Jakarta ke Cirebon menggunakan Cirek sekitar 3 jam. Sekitar jam 9an sampailah di stasiun Cirebon Hmmm ...setelah renovasi stasiun ini semakin besar saja. Saya memang belum pernah turun di stasiun ini, tapi saya biasa melewatinya ketika pulang kampung, jadi lumayan tahu perkembangannya. Dan suasananya yang ramai, sedikit membuat saya pusing. Sayapun langsung mencari loket tiket, tapi penjualan tiket langsung baru dibuka 1 jam sebelum keberangkatan kereta yang dituju. Waduh, masih ada yang tersisa nda ya tiketnya? Ya sudahlah, sayapun berjalan keluar mencari ATM Center, karena terburu-buru saya hanya membawa uang cash pas-pasan. Untung ngga lupa pula membawa dompet dan ATM. Waktu sedang mencari ATM, saya melihat Loket Pemesanan Tiket, dan sayapun langsung menuju kesana. Sambil ingak-inguk saya mendengar mba-mba penjual tiket bicara kepada pemesan tiket bahwa semua tiket balik dari Cirebon ke Jakarta sudah habis, dan saya sebenarnya juga sudah mendengar hal yang sama sewaktu membeli tiket di Stasiun Gambir. Tapi seperti biasa saya belum puas kalau belum mencoba sendiri berhadap-hadapan dengan petugas loket dan mendengar langsung penjelasannya kepada saya hehe. Dengan pura-pura tidak tahu saya tetap memesan tiket, eh, dengan semangat mbak penjual tiket berkata “ Wah kebetulan ni Teh, tiketnya tinggal satu, Cirek bisnis. Tapi tambah 10 ribu ya untuk biaya pemesanan”
See...how lucky me!!! Sepertinya ada yang membatalkan tiket tadi, sewaktu saya menulis formulir pemesanan tiket. Dan ada mas-mas di belakang saya memesan tiket yang sama, sudah tidak ada yang tersisa. Wow tiket terakhir berada di tangan saya, rasanya ada sensasi gimanaaa gitu mendapatkan tiket terakhir hihiihi. Saya bisa jalan-jalan dengan tenang nich karena tiket sudah saya dapatkan.

Beberapa menit kemudian teman saya menjemput, dengan menggunakan becak. Rupanya masih banyak becak di sini. Saya menjumpainya dengan mudah di jalanan kota. Rumahnya tidak jauh dari stasiun. Huwaa...senangnya masih diberi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan sobat lama. Kamipun langsung berceloteh dengan riang di atas becak yang dikayuh. Tak peduli sesekali dilihatin orang di jalan karena celotehan kami berdua terlalu keras.

Sewaktu dia meninggalkan Jogja saya tidak sempat berjumpa dan mengantarnya langsung di stasiun. Dia meninggalkan Jogja dengan terburu-buru karena ayahnya meninggal. Dia bercerita waktu itu seperti sinetron. Dia mengemas semua barang-barangnya dengan terburu-buru, dan diantar oleh salah satu temanku yang punya motor ke Stasiun Tugu. Waktu itu hujan rintik-rintik katanya, jadi semakin menambah melow dan sedih. Dan ditambah ada dua orang temanku yang berlari-lari ingin bertemu dengannya sewaktu keretanya berangkat, jadi menambah semua adegan layaknya film India katanya. Dia meneleponku sewaktu dia sudah di stasiun, jadi waktu itu saya yang masih di kampus tidak bisa melepas kepergiannya. Dan dia menceritakan semua kenangan itu dengan senyum. Jadi ingat sehabis wisuda, ada beberapa orang temanku yang kehilangan ayah tercintanya.

Sobat saya yang sederhana ini, masih sama seperti dulu. Perangainya masih sama, suka bercanda dan terbuka. Kesahajaan dan kesabarannya juga sepertinya masih sama, bahkan mungkin kualitasnya lebih baik lagi. Dia tinggal bersama ibu angkatnya (budhenya) dan satu orang keponakannya di rumah yang sederhana. Sehari itu hampir saya mendengar semua kisahnya setelah dia meninggalkan Jogja. Lagi-lagi saya salut dengan kesabaran dan semangatnya. Jurusan yang kami ambil waktu kuliah bukanlah jurusan yang populer dan tergolong masih baru. Kami angkatan kedua dijurusan tersebut. Dan kami juga tidak mempunyai gelar, karena memang bukan S1. Jadi perlu perjuangan yang tanpa lelah untuk mendapatkan suatu pekerjaan, apalagi di daerah. Di dalam otak saya sama sekali tidak terbersit untuk berwirausaha. Yang ada di kepala waktu itu adalah bekerja kantoran, seperti layaknya profesional muda yang kulihat di TV hehehe.

Waktu itu katanya dia ingin sekali pergi ke Jakarta bekerja kantoran seperti saya dan teman-teman, tapi ibunya menyuruh dia bersabar menjadi guru di salah satu sekolah Islam di tempat tinggalnya. Menjadi guru sama sekali tidak terbersit dipikirannya dan dia tidak pernah membayangkannya. Sewaktu pertama kali dia mengajar anak kelas 1 SD, dia berkata pada diri sendiri “ Bener ngga yach cara ngajar saya” hihii. Seiring waktu dia belajar banyak, sambil kuliah lagi di PGSD UT. “ Hei yang ingin jadi guru kan kamu ya, kenapa saya yang jadi guru?” dia berkata seperti itu kepada saya.
Iya dunia mengajar sudah tidak asing bagi saya, karena ibu saya juga seorang guru SD. Kadang saya memberi les gratis kepada murid-murid ibu menjelang ujian jika kebetulan saya sedang libur sekolah di kampung. Saya juga pernah dipercaya menjadi asisten praktikum untuk beberapa mata kuliah di kampus semenjak saya semester 3. Walau saya ini grogian dan public speakingnya jelek dan sering demam panggung, saya tetap berusaha memberanikan diri menjadi asisten hehehe. Sampai-sampai ada 2 orang teman kuliah yang memanggil saya bu guru, sewaktu saya masih menjadi mahasiswi karena seringnya menjadi asisten. Saya sangat berterima kasih kepada pihak pengajaran karena telah memberi kesempatan kepada saya untuk menggali kemampuan saya yang lain, mengisi kantong saya juga dengan honor sebagai asisten walau tidak seberapa, dan menambah kenalan adik-adik angkatan yang banyak. Yang jelas sangat menambah kepercayaan diri saya yang sering merasa seperti upik abu. OK sudah cukup cerita tentang saya, kembali ke cerita tentang teman saya saja ya hehehe.

Singkat cerita, jarangnya lowongan untuk jurusan kami maka dia banting setir. Kuliah lagi dari nol di UT. Rupanya pikiran kami sama, walau tidak saling kontak selama beberapa tahun. Dia berhasil tembus tes CPNS dan sekarang dia sudah menjadi pengajar tetap di SD Negeri di tempat tinggalnya. Alhamdulillah, setidaknya ada penghasilan tetap masuk. Dan dia pun masih memberi les privat untuk anak-anak tetangganya dengan bayaran seihklasnya. “Kenapa ngga pakai tarif?” tanya saya. “Kamu kan tau saya ini ngga tegaan, kasihan ma tetangga kalau kemahalan. Gpp-lah lumayanan” begitu jawabnya. Ibunya tidak bisa melihat dengan baik, dan selama ini para tetangganyalah yang membantu jika dia pergi bekerja. Dia tidak punya saudara lain di Cirebon, maka para tetangganyalah yang menjadi saudara, begitu ungkapnya. Memang dasarnya sobat saya ini memang orang baik, sabar, dan selalu ceria, tidak salah saya berteman dengannya. Banyak pelajaran hidup yang bisa saya ambil. Jika saya kurang bersyukur dan banyak mengeluh, maka saya akan ingat perjuangannya. Entah sadar atau tidak, dia bisa menjadi salah satu inspirasi bagiku.

Saya mungkin tidak supel, tapi insyaalllah saya mempunyai banyak teman atau sahabat yang tulus, peduli dan baik J, dan tentu saja semuanya menempati salah satu ruang khusus di hati saya J


4 komentar:

al kahfi said...

pertamax,, menyimak ceritanya sob,,tdk supel tp byk teman,,soo bagaimana kalo kamu supel ya makin byk lg temennya x y

ria haya said...

@al kahfi : hehehe, itu karena teman2 saya memang orang-orang yg baik yang mau mengulurkan tangannya duluan untuk menjalin pertemanan dg saya :)

ternyata memang bener ya, semua orang punya figur seorang teman atau sahabat yang bisa jadi inspirasinya..

weh semangat juang tinggi nyari tiket ternyata membuahkan hasil walo nambah 10 ribu

salut sama temannya yang ngasih privat gratis. saya setuju walo ndak mendapatkan bayaran, tapi itu sudah menjadi ladang amal kebaikan, paling tidak bayarannya adalah rasa puas bisa bermanfaat bagi orang lain