Mobil Keblusuk

4/08/2012 07:23:00 PM ria haya 6 Comments

Lanjutan cerita Pantai Klayar


Matahari semakin terik, posisinya semakin bergeser menuju atas kepala. Ombak juga semakin besar. Kami meninggalkan kawasan Seruling Jagat/Laut, yang terletak di sebelah timur, dan menuju bagian barat dari kawasan Pantai Klayar yang berupa cliff yang terjal. Dari atas cliff kita bisa melihat kawasan Pantai Klayar secara keseluruhan.






Kami di sini hanya sebentar, karena waktu solat Dzuhur tinggal sebentar lagi. Kami menuju sumur untuk membersihkan diri, karena baju sudah basah dan penuh dengan pasir karena tadi sempat terhantam ombak tinggi sewaktu bermain-main di area timur.
Sayang toiletnya masih ditutup juga. Sudah bertanya pada ibu-ibu yang jaga warung, katanya yang bawa kuncinya sedang pergi. Padahal dari tadi aku dah nahan buang air kecil. Anak-anak cowok mah dengan cueknya buang air kecil dibalik pohon, kalau kita yang cewek susah, karena lebih ribet. Akhirnya kita memutuskan untuk beranjak meninggalkan kawasan Pantai Klayar, menuju tujuan selanjutnya ke pantai-pantai di Gunung Kidul, seperti Pantai Siung, sambil mencari SPBU di jalan sepanjang perjalanan untuk keperluan MCK dan sekalian sholat Dzuhur. Kami meninggalkan Pantai Klayar ketika memasuki waktu Dzuhur, sekitar jam duabelasan siang.

Jalan sempit yang berkelok-kelok itu rupanya mulai lumayan ramai. Banyak anak SD yang pulang sekolah dengan berjalan kaki. Beberapa kali juga kami berpapasan dengan truk. Rupanya banyak truk juga di kawasan ini, entah mereka mengangkut apa? Ketika berpapasan dengan truk atau mobil, kita sering mengucapkan salam atau ucapan terima kasih kepada supirnya karena sudah mau bekerja sama atau saling mempersilahkan lewat terlebih dahulu saat berpapasan di jalan yang sempit dan berliku ini.
Salah satu teman kami yang mabuk perjalanan dan muntah-muntah sewaktu berangkat tadi (namanya Dwi), kami persilahkan duduk di depan. Tiap kali ada kendaraan yang muncul secara tiba-tiba dari arah depan atau mobil berada pada belokan yang sulit dia akan reflek berteriak atau menjerit, membuat kaget seisi mobil. Wah sepertinya dia duduk di depan tambah salah nich.

Tiba-tiba muncul truk berwarna hijau dari atas tanjakan yang berkelok di depan mobil kami. Mobil kami sedang menanjak, dan truk itu sedang turun. Truk itu sama sekali tidak mau mengalah, dan turun begitu saja. Kami akhirnya minggir dengan mendadak sewaktu menanjak. Teman kami yang di depan tadi semakin histeris waktu mobil mundur secara perlahan dan dia melihat roda mobil keluar dari aspal. Adikku Ning menyarankan agar dia jangan melihatnya. Semakin digas mobil malah semakin mundur. Tiba-tiba terdengar bunyi "krek" dari arah belakang mobil, akupun menengok ke belakang, dan langsung berteriak "Keluar sekarang juga!" karena aku melihat wajah Yoga yang duduk di belakang sudah pucat, dan Ganjar yang duduk disebelah Yoga sudah melompat ke depan. Adiku Ning yang duduk disebelah pintu yang berdekatan dengan jalan segera keluar, disusul dengan aku, Kak Mey, Ganjar dan Yoga. Kami turun satu per satu dengan tertib,dan berusaha tenang walaupun deg-degan. Kami pegangi mobil sebisa kami, karena takut mobil meluncur ke belakang, karena ternyata di belakang mobil kami menganga sebuah jurang yang cukup dalam. Dwi yang masih di dalam berteriak panik, karena dia tidak bisa membuka pintu mobil bagian depan. Kami yang diluar tidak kalah paniknya dan berteria-teriak dari luar, "Pencet tombolnya yang itu, dan buka kacanya biar kami bantu!!" Akhirnya dia berhasil keluar disusul dengan Angga,si pengemudi, karena dia tidak bisa keluar dari sisi kanan pintu kemudi, agar keseimbangan mobil tetap terjaga. Sisi kanan dan belakang adalah jurang.



Alhamdulillah kami semua selamat... Tapi truk hijau tadi sudah menghilang dengan cepat, sama sekali tidak berhenti ketika mobil kami terperosok.
Ning dan Dwi langsung terduduk di pinggiran jalan, lemas. Aku melihat-lihat area sekitar. Wuah tidak terlihat rumah penduduk di sekitar sini. Mobil yang remnya sudah dikunci oleh Angga, masih terkatung-katung. Separuh badan mobil berada di pinggiran jurang. Dan roda bagian depan sudah sedikit terangkat dari tanah.
Kami berpikir bagaimana caranya mengevakuasi mobil. Aku tidak bisa duduk, dan bolak-balik saja melihat-lihat area sekitar. Kami putuskan untuk menunggu orang lain dan truk yang lewat untuk meminta bantuan.

Tak berapa lama ada sepeda motor lewat, kami meminta tolong dipanggilkan warga terdekat untuk menolong kami. Kemudian sebuah truk lewat, kami cegat untuk dimintai tolong menarik mobil.

Menyetop truk lewat

Warga mulai berdatangan, dan berbagai skenario evakuasipun didiskusikan.
Ada yang mengusulkan agar mobil ditarik pakai tali saja ramai-ramai dibantu truk juga untuk menariknya. Karena tidak mungkin mendorongnya dari belakang. Kami tidak mau menanggung resiko jika ada yang terpeleset waktu mendorong mobil dari tepian jurang itu.

Panas matahari semakin terik sewaktu kami menunggu beberapa warga mencari tali yang kuat untuk menarik mobil. Aku masih tidak bisa duduk, dan menjauh dari kerumunan itu. Sesekali memotret keadaan dari jauh, sambil berpikir. "Masya Allah, bagaimana jika tadi mobil benar-benar terjatuh? Aku termasuk yang paling tua usianya di dalam mobil itu, bagaimana aku harus bertanggung jawab?" Semua anak ayah dan ibuku berada di mobil itu. Alhamdulillah kami semua bisa keluar dengan cepat. Beberapa warga menanyakan bagaimana cara kami keluar dari mobil tadi? Ya kami keluar secepat yang kami bisa, satu per satu.
Warga berhasil menemukan dua tali, yang besar. Entah tali apa itu? Kedua tali diikatkan di bagian depan mobil dan di bagian belakang truk pada ujung satunya. Mobilpun berusaha ditarik, tapi rupanya belum berhasil. Mobil tidak bergeming. Beberapa warga takut jika talinya putus mobil akan meluncur ke belakang. Wuah aku tidak bisa membayangkan akibatnya jika terjadi itu. "Bagaimana aku harus mengganti mobil jika hal itu terjadi? Uang darimana? Paling tidak sekitar 150 jutaan harga mobilnya, harus berapa tahun aku mengumpulkan uang sebanyak itu?" Kepala mulai pusing dan khawatir

Aku tambah gak bisa duduk, walaupun sudah tidak bolak-balik lagi. Panas euy... Ngiyub sik. Dwi masih duduk gemetar, ndeprok di rerumputan pinggir jalan. Kami yang cewek-cewek tidak hanya berdiam diri saja. Kami berusaha mengingat semua nomor telepon darurat atau nomor penting untuk dihubungi.
Sewaktu berangkat tadi pagi, kami mengikuti siaran di radio Swaragama lewat radio mobil, yang isinya kuis tentang nomor-nomor telepon penting seperti 108, 110, 123,dsb. Waktu itu sang penyiar menanyakan kepada pendengar jika kita ingin menanyakan waktu (jam) berapa saat ini, nomor telepon manakah yang harus dihubungi? Nanti sang operator akan menjawabnya dengan detil.
Ning berusaha menelepon 108, untuk meminta nomor telepon polisi terdekat atau nomor layanan derek mobil terdekat. Rupanya belum berhasil. Kita harus mencantumkan kode wilayah telepon di depan 108. Untung Kak Mey, membaca kode wilayah Pacitan sewaktu di jalan tadi.

Akhirnya kami berhasil mendapatkan beberapa nomor telepon yang kami butuhkan yaitu nomor telepon kantor polisi terdekat dan nomor mobil derek. Untung dia area ini ada sinyal juga, karena tadi sewaktu di pantai sinyal on off on off. Tapi malang, nomor-nomor yang kami telepon tidak ada yang mengangkat (mungkin karena waktu istirahat dan makan siang), dan mobil derekpun adanya di Kota Pacitan yang notabene jaraknya jauh dari sini.
Wuah, masa kami harus menunggu sampai malam di sini. Hiiii, ngeri amat.
Aku  mondar-mandir lagi, sambil memotret keadaan.
Beberapa warga mencari tali tambahan, dan berhasil menemukannya. Angga berdiskusi dengan sopir truk bagaimana cara mengevakuasi mobil itu. Akhirnya diputuskan untuk tetap menarik mobil dengan tali, tentu saja dibantu truk dan para warga yang sudah semakin ramai berdatangan, membantu dan menonton. Angga masuk ke dalam mobil, berusaha menyetirnya. Adikku Ning berteriak "Jangan sich jangan, bahaya!" begitu melihat Angga masuk ke dalam mobil. Ya kami memperhitungkan kemungkinan terburuk, jika tali-tali itu putus. Aku dengan galak menimpali adiku Ning "Biarin aja sich, berdoa aja!"
Kita tetap harus mencoba peluang itu kan. Derek sudah gak mungkin lagi, karena jauh dan belum tentu mau datang ke daerah terpencil ini. Akhirnya Ning gak mau melihat evakuasi itu, saking takutnya.

Memasang tali-tali
Evakuasi Mobil
Dorong teruuuus....

Aku tetap melihat sambil memotret. Sejujurnya aku juga sangat khawatir, ada anak orang di dalam mobil sana. Mataku sudah panas, siap menumpahkan air mata, karena saking takutnya juga. Cuma sekuat tenaga ditahan. Dengan aba-aba Yoga, mobil itu ditarik. Penarikan mobil harus kompak, antara Angga pengemudi mobil, pengemudi truk, dan para warga yang menarik tali juga harus bersinergi kompak, agar berhasil. Mesin mobil menderu-nderu mengerikan dan mengeluarkan asap. Saat itu tumpah sudah air mataku, tanpa bisa kutahan lagi. Sudah tahap gemetar. Benar-benar takut. Mulut tak henti-hentinya komat-kamit membaca doa. Tapi tetap saja memotret dengan kamera digital kecilku ini, hehehe.

Alhamdulillah… mobil terangkat dari tepian jurang. Horeeee!!! Teriak kami semua. Para warga melepaskan tali dan berteriak dengan gembira juga. Tiba-tiba Yoga berteriak sambil menahan mobil dari belakang, "eh eh, jangan lepas dulu talinya, mobil masih mundur!" Ya ampun para warga lupa, kalau kita berada di tanjakan. Adiku Ganjar segera mengangkat batu besar untuk menahan mobil. Dalam keadaan gawat, kadang-kadang kekuatan kita bisa muncul melebihi biasanya bukan?
Akhirnya mobil dibawa oleh Angga sampai atas, melewati tanjakan dan berada dalam keadaan aman. Wuah leganya... Sebagai rasa terima kasih, kami memberi uang kepada warga untuk dibagi-bagi untuk ongkos minum atau rokok, dan membayar pengemudi truk yang telah membantu. Hampir 500 ribuan kami keluarkan uang ekstra dari dompet, karena kejadian itu. Tapi tentu saja 500ribu itu tak sebanding dengan nyawa kami semua dan mobil yang tetap baik-baik saja. Alhamdulillah mobil itu tidak lecet sama sekali pada bagian belakangnya. Mobil itu berhenti beberapa cm, tepat di depan sebuah batu besar di jurang tadi. Amazing sekali....
Padahal sewaktu berangkat tadi ketika berhenti di ATM aku komen dengan Ning, "Ngapain ambil duit sebanyak itu, sampai jutaan? Wong kita cuma mau ke pantai kok bukan ke mall." Dia jawab malas bolak-balik ke ATM sampai liburan selesai besoknya.
Ternyata....uang itu benar-benar digunakan dalam keadaan darurat ini. Wuah kok banyak yang kebetulan ya???

Sebelum mobil hampir masuk jurang, beberapa menit sebelumnya, mobil kami hampir saja menabrak anak kecil yang tiba-tiba menyeberang. Aku tidak melihatnya sich...hanya Kak Mey dan Ganjar yang melihatnya. Anak kecil itu sudah hampir menempel di kaca mobil yang melaju dengan lumayan cepat, dan seperti hendak menembus mobil. Itu yang dikatakan Ganjar.

Kamipun bersalam-salaman dengan semua warga yang hadir di situ. Seorang bapak-bapak tua berkata "Hati-hati mba, disini banyak tanjakan yang lumayan tajam. Di daerah sini memang suka ada yang sering narik-narik". Wew, siapa yang narik-narik? Dedemitkah??? Huwaaa....ngeri amat.

Kamipun melanjutkan perjalanan. Suasana di dalam mobil sedikit tegang. Dwi akhirnya duduk di sebelahku, dan tidak boleh berteriak-teriak lagi kalau kaget berpapasan dengan kendaraan lain, atau waktu berkelok di tikungan tajam. Karena bisa mengganggu konsentrasi pengemudi. Akupun dengan nada bercanda tapi cukup galak dan serius berkata "Nek njerit meneh, tak keplak ngko!! Meneng ae, liat-liat pemandangan aja jangan liat jalan. Atau matanya merem, dan mulutnya untuk melafalkan dzikir aja!!" xixixi, anak orang dibentak-bentak :D.

Wuah perjalanan masih jauh. Setiap kali akan melewati tanjakan, turunan atau belokan, di mana kami tidak tahu apa yang ada di depan kami, klakson mobil dibunyikan. Sebagai peringatan bahwa ada mobil kami yang akan lewat. Mulutku tak henti-hentinya berdzikir dan membaca doa. Mobil melaju dengan lumayan kencang ketika mengambil ancang-ancang untuk melewati tanjakan, agar mobil tidak mundur seperti tadi, karena mesin tidak kuat menanjak jika mobil berjalan pelan di tanjakan.
 
Wuah, udah panjang juga ceritanya. Ah biarin aja lah...namanya juga lagi ndobos hehehe :D
Cukup sampai di sini dulu, kapan-kapan disambung lagi ^__^
Moral the storynya apa nich? Silahkan berkomentar, kalau ada yang mau membaca dan menyimpulkan dari cerita lumayan panjang saya di atas :)

6 komentar:

Broden Mbois said...

wew....ati2 mbk'e

Alhamdulillah semuanya selamat mbak.. Lain kali memang harus hati-hati kalau jalan antara gunung kidul-pacitan. jalannya emang gila.. teriak-teriak memang bikin konsentrasi bisa buyar. aku juga pernah mengalaminya waktu nyetir dari jogja ke pantai baron bareng keluarga. bulekku teriak2 terus kalo pas ditanjakan atau tikungan. padahal biasanya driver lebih waspada dan lebih tau kondisi jalan. asal nggak ngantuk aja sih.. hehe..

tapi nggak kapok kan pergi ke gunung kidul-pacitan? :D

ria haya said...

iya Din hehe

ria haya said...

InsyaAllah ga kapok Mas... kalau ada teman and kesempatan mau kok ke daerah sana ^^

alhamdulillah ya selamat :)
kayaknya itu bakal jadi memori yang ga akan terlupakan yah :D

ria haya said...

iya...tapi moga ga terulang lagi hhehe