Operator, Guru, dan Lembur Sepenuh Hati: Cerita Dari Desa

Masih terngiang jelas di kepala, tahun 2015 aku pertama kali “nyemplung” ke dunia pendidikan desa. Bukan sebagai guru, tentu saja—aku cuma operator administrasi. Bayangin, aku duduk di depan laptop, ngoprek Dapodik, update PIP, sertifikasi guru, SIMPEG, UKG, PUPNS, BOS… dan berbagai istilah yang awalnya terdengar seperti bahasa alien. Tapi aku enjoy, karena setiap klik dan update itu terasa berguna.

Guru-guru di SD itu mayoritas perempuan senior, dan satu-satunya guru laki-laki adalah guru olahraga wiyata bhakti. Mereka ramah, perhatian, kadang nyeleneh, tapi bikin aku nyaman. Aku merasa seperti anak dalam keluarga besar—walau capek, ada rasa hangat yang susah dijelaskan. Teman-temanku di desa kadang kaget lihat aku kerja di sekolah, tapi aku cuma nyengir dan bilang, “Aku butuh suasana baru. Jakarta terlalu ribet, bosan, dan kadang terlalu formal.”

Dulu aku ingin ikut program Indonesia Mengajar, tapi syaratnya bikin aku cuma bisa ngiler dari jauh. Tapi ya sudahlah, aku bisa mulai dari desa sendiri. Dari pengalaman itu aku belajar: mimpi besar bisa dimulai dari hal kecil.

Bertahun-tahun aku terus membantu guru-guru senior, lembur malam demi laporan yang harus update. Lalu 2021, aku memberanikan diri daftar Guru PPPK. Dengan modal “nothing to lose” dan ijazah seadanya, aku mencoba. Dan surprise! Aku lolos tes, nilai PG1 menurutku sendiri memuaskan, teman bilang nilaiku tinggi juga. Rasanya campur aduk: deg-degan, senang, lega, dan… ingin teriak ke seluruh dunia.

Hari pertama mengajar sebagai guru, aku deg-degan bercampur antusiasme. Setelah sekian lama duduk di belakang layar, kini aku berdiri di depan kelas, menghadapi murid-murid polos dan ceria. Tatapan penasaran mereka, senyum malu-malu, bahkan pertanyaan spontan: “Bu, boleh nanya nggak?”—semua bikin jantung berdebar.

Mengajar ternyata bukan sekadar menjelaskan materi. Aku harus membaca energi kelas, menyesuaikan bahasa, menjaga perhatian murid, dan kadang menahan diri untuk tidak tertawa ketika mereka membuat hal lucu atau absurd.

Sekarang, aku berada di posisi ganda: operator + guru PPPK. Artinya, selain mengurus administrasi, aku juga menyiapkan bahan ajar sepenuh hati. Aku ingin menjadi guru yang ideal: menyiapkan materi detail dan kreatif, mengoreksi pekerjaan murid dengan teliti, memberi feedback personal, dan melayani mereka dengan sepenuh hati.

Lembur? Sudah jadi makanan sehari-hari. Kadang sampai larut malam, kadang bangun lebih pagi lagi. Tapi ada kepuasan tersendiri: murid-murid yang antusias belajar, yang tersenyum ketika paham, yang senang ketika dikoreksi dengan cara yang menyenangkan. Semua itu membuat malam lembur dan kopi larut malam terasa berharga.

Ada momen lucu juga, misalnya ketika aku menjelaskan materi, tiba-tiba seorang murid dengan polosnya berkata, “Bu, kalau saya nggak ngerti, boleh pulang nggak?” atau yang lain menimpali, “Jangan marah ya Bu, kalau saya salah jawab.” Aku cuma bisa tertawa dan bilang, “Santai aja, kita belajar bareng kok.”

Kadang aku ikut terheran-heran sendiri. Di desa yang tenang, murid-murid bisa bikin kelas riuh seperti pasar. Tapi itu justru bikin pengalaman mengajar semakin hidup. Aku belajar banyak: kesabaran, fleksibilitas, dan bagaimana membuat belajar tetap menyenangkan tapi tetap efektif.

Selain itu, sebagai operator, aku tetap harus menyelesaikan berbagai tugas tambahan: laporan BOS, update Dapodik, PIP, koordinasi dengan kepala sekolah, bahkan urusan sertifikasi guru, serta tugas tambahan lainnya. Tentu saja, semuanya harus tepat waktu. Kadang multitasking terasa berat, tapi aku menikmatinya karena ini bagian dari perjalanan menjadi guru yang total dan profesional.

Melihat kembali perjalanan dari honorer 2015 sampai sekarang, aku tersenyum sendiri. Dari duduk di belakang layar, membantu guru senior, hingga mengajar, lembur, dan menyiapkan materi sepenuh hati, rasanya seperti menutup satu bab lama dan membuka bab baru hidup: tanggung jawab lebih besar, kepuasan lebih dalam, dan mimpi perlahan tercapai.

Setiap malam, saat menutup laptop setelah lembur, aku sering tersenyum sambil berpikir: “Ini baru seru, ini baru tantangan, dan aku bahagia bisa menjadi bagian dari kehidupan murid-murid ini.”

Dan hari ini aku hanya bisa berkata pada diri sendiri:
"Teruslah berjalan, teruslah belajar, jangan takut memulai dari hal kecil. Dari langkah kecil itu, mimpi besar bisa tercapai—dimulai dari desa sendiri. Dan ingat, menjadi guru bukan hanya soal mengajar, tapi soal memberi sepenuh hati."

Comments

My Popular Post

RANGKUMAN DAFTAR GAJI

The Black Country

Bahasa Indonesia di mata Malaysia