Jalanan Ibukota

2/18/2011 07:21:00 PM ria haya 6 Comments

Pagi  hari sekitar pukul 6, suara deru kendaraan sudah terdengar bagai suara deru ombak Samudera Hindia di kampungku, mengalahkan kicauan burung-burung (halah...emangnya masih ada burung di sini? )
Sepertinya  suara itu berasal dari arah Jalan Simatupang, wah pasti sudah mulai penuh jalan di sana.
Jarak  kosku ke jalan itu mungkin sekitar 1 km
Yach  Jakarta semakin ramai saja, dan kemacetan semakin menjadi. Motor  semakin banyak jumlahnya.

gambar dicopy dari koran-jakarta.com
Kenaikan  BBM tak menyurutkan volume kendaraan bermotor di jalan. Katanya   tetep murah kalau pakai kendaraan sendiri, dan kemana-mana jadi gampang. Tidak layaknya angkutan umum juga membuat kalangan menengah ke atas ogah repot-repot naik angkutan umum.
Buruknya  transportasi umum di negeri ini, membuat sebagian besar masyarakat memilih kendaraan pribadi untuk bepergian, yang mereka rasa lebih nyaman.
Seperti  beberapa hari yang lalu jalur busway jalur 6 (Kuningan-Ragunan), jalur yang gemuk itu tidak beroperasi. Karena  ada seorang anak yang tewas tertabrak busway. Tidak  disiplinnya pengguna jalan juga menyebabkan semakin ruwetnya jalanan ibukota. Semua  orang ingin cepat sampai ke tujuan masing-masing dengan cepat.

Ah...lagi-lagi lu ngomongin jalanan Jakarta. Ngomongin masalah transportasi dan kemacetan di Jakarta tu udah kayak lingkaran setan, cuy...

gambar dicopy dari republika.co.id


Entah karena karakter orangnya yang susah diatur dan senang melanggar peraturan, dan jumlahnya banyak (coba berapa kepadatan penduduk Jakarta ini?), atau karena sistemnya yang salah, atau manajemen transportasinya yang masih kurang canggih, atau kebijakan-kebijakan lain yang mempengaruhi tata ruang kota,aparat pemerintah yang kurang tegas, dll
Pertumbuhan  jumlah kendaraan yang meningkat (mungkin karena akibat mudahnya kredit motor dan mobil sekarang ini) tidak sebanding dengan penambahan/pertumbuhan jalan.
Menurut Pemda DKI ada 1172 kendaraan baru baik motor ato mobil di Jakarta
6,7 jt populasi kendaraan di Jakarta
95 % kendaraan pribadi
dan sisanya transportasi umum

wow, sangat jauh ya perbandingannya.

Terkonsentrasinya semua kegiatan dan aktivitas pemerintah dan non pemerintah (seperti perekonomian, perdagangan, sekolah, perkantoran, dll) di Jakarta itu seperti magnet yang membuat semua orang berbondong-bondong menyesaki  kota ini.

Termasuk  lu, donk...
Iya , saya juga salah satunya. Abis  saat ini rejeki saya masih disni, nyari modal dulu cuy...

Terus  apa donk solusinya kalo gitu? Ngomong  aja lu ga kasih solusi...
tweweweng...kalau ditanya itu, gimana jawabnya hayo....tuing...tuing...tuing...

Kalau saya sich hanya bisa jawab, saya akan mulai dari diri sendiri dulu, dari yang kecil dan sederhana dan mulai dilaksanakan sekarang juga (mengutip kata-kata aa Gym hehe), yang mungkin jika dilaksanakan dengan baik dan konsisten, akan membentuk pola hidup yang lebih baik, misalnya dengan   mulai berdisiplin di jalan raya dan menghormati orang lain di jalan, mematuhi rambu-rambu lalin, dan berangkat lebih pagi tentu saja biar ga kena macet, karena saya juga pake angkot, dan busway, ga bisa cari jalur alternatif selain yang dilewati angkot... jalan kaki saja kalau jaraknya dekat, dll...hehehe
Sudah ada beberapa kelompok yang menjalankan program, 'bike to work' kadang saya melihatnya satu dua di jalan. Sekarang  sepertinya lagi ngetrend sepeda fixie.
Tapi  jalanan di Jakarta juga belum mendukung untuk kenyamanan komunitas sepeda, bahkan trotoar untuk pejalan kaki saja masih diserobot oleh pengendara motor. Cape dech….
Seandainya disediakan jalur/track khusus buat sepeda, saya mau dech ikutan bersepeda ria seperti waktu SMP dulu :)

Kalau  untuk masalah teknis penyelesaian segala keruwetan jalan di Jakarta , tentu sudah banyak sarjana-sarjana yang bersangkutan yang lebih capable, dan pasti sudah banyak juga ahli-ahli di pemerintahan dan lembaga-lembaga lain yang bahkan mungkin lulusan luar negeri dengan berbagai gelar, yang mempunyai ide-ide cemerlang tentang gimana seharusnya manajemen transportasi  yang baik dan canggih di kota besar, dan gimana seharusnya masyarakat harus berperilaku. Tinggal  gimana merealisasikannya dengan baik dan semestinya sesuai rule yang sudah disepakati bersama. Dan tentu saja tidak hanya sekedar teori-teori canggih dan keren, tapi action di lapangan yang lebih penting.

Berikut ini beberapa contoh solusinya :
1. Diperlukan Transportasi Massal untuk kelas menengah yang cepat, aman dan nyaman dan  tidak memakai jalan raya..
Seperti MRT di Singapore dan London Underground di Inggris..

The London Underground is the oldest and longest subway network in the world

London Underground


wew...banjir aja lom selesai tu masalahnya, gimana mo dibangun terowongan bawah tanah? nti kebanjiran juga tuch terowongan...
MRT(Mass Rapid Transit)  juga pasti gak murah, diperlukan dana trilyunan. Kalau  mo membangun proyek itu (yang katanya sekarang sampai pada tahap penyempurnaan disain), harus dipastikan semua yang terlibat dalam proyek tersebut bermoral dan bermental baik sesuai dengan ajaran agama dan pelajaran PPKn, biar dananya gak dikorupsi, dicari lahan proyeknya doank tapi proyeknya amburadul (asal bangun dan selesai, tapi ga tau kualitasnya) dan tersendat-sendat. Tuch liat aja tiang-tiang monorel di Kuningan, kapan selesainya ya?? Kalau nda dipake kayaknya lumayan juga tuch buat tanaman merambat, seperti pare, ketimun, dll, ya setidaknya sedikit penghijauan J

nah, mbundet lagi kan...

2. Ada juga usul untuk pemindahan ibukota ke kota lain. Biar kayak di Amrik gitu pusat pemerintahan di Washington, pusat perekonomian di New York, dll
Tapi  kalau pindah ibukota, pasti masalah yang lain akan menyusul. Dan  masalah di Jakarta tetap harus diselesaikan juga to...
wew...pusing gak tuch...
Biarin aja para elit dan pejabat mang dibayar mahal untuk pusing ngurusin rakyat kok...hehehe....

3. Dibuat tata kota yang bagus dengan sistem transportasi yang OK juga, yang sesuai dengan kaidah lingkungan dan dapat mengakomodasi semua kepentingan.
Kira-kira kalau tata kota di Jakarta diperbaiki atau di tata ulang masih bisa ga ya???
 Kalau  di tata ulang, berarti kemungkinan ada penggusuran dan relokasi plus ganti rugi donk...ribut pasti tuch....

Tidak mudah pasti, mungkin diperlukan tangan besi untuk menanganinya (kompleks banget sich masalahnya, sampai bingung mana yang harus diurai terlebih dahulu)
Mungkin juga yang diperbaiki adalah kualitas SDM di semua lini dari tingkat atas sampai bawah (rakyat, pemerintah, swasta) dengan moral, mental, akhlak yang baik, sehingga  semuanya berjalan dengan baik, n jangan pula 'talk only, do nothing' ..action donk action...

Ah...kan emang idealnya begitu...tapi dunia ini penuh warna-warni cuy.....

@#%$^%&^*()(_^%%#$$#^%....auk ah...pusing.....dah panjang jg nich ngemengnya........kapan-kapan aja dilanjut lagi :)

6 komentar:

Gaphe said...

ya udahlah, terima aja resiko hidup di kota Jakarta.. emang udah jadi makanan sehari-hari kan yah?.

lagian problem kayak ginian juga udah umum banget di negara berkembang.
walau macet gitu tetep ngangenin koq!

☺☺☺ said...

hahaha semangat aja ya. mau gimana lagi. harus tetep dinikmatin ;p

☺☺☺ said...

ayo ayooo update updateeee ;D

ria haya said...

iya dnikmatin bgt kok heeeee

update...update...

admin said...

ya mau gimana jg jakarta tu jakarta kita semua.. jdi kita pa salahnya kita puji..he e,,,

ria haya said...

pujiannya adl "semua ada di jakarta ini"