Sutiani, Pelita dari Bukit Pusung

3/27/2011 11:12:00 AM ria haya 5 Comments

Masih sok sibuk nich, jadi lom update blog. Jadi saya cuma ingin berbagi artikel di bawah ini. Semoga menginspirasi :)


Sutiani, Pelita dari Bukit Pusung
Editor: Jodhi Yudono


KOMPAS/DAHLIA IRAWATI Sutiani
Dahlia Irawati

Semoga sampai sekarang masih banyak pendidik dengan pengabdian sebesar Sutiani, guru SDN Wonorejo IV, di Dusun Pusung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dia adalah sosok pendidik tulen, bukan sekadar pengajar di sekolah formal.


Sutiani mengajar siswa hampir satu sekolahan, atau tepatnya siswa kelas I, kelas V, dan kelas VI SDN Wonorejo IV. Dia mengajar tiga kelas saja karena sudah ada seorang rekan guru yang dapat mengajar kelas II dan kelas IV, sejak tahun 2007. Sebelum ada teman mengajar, Sutiani adalah satu- satunya guru yang bertahan mengajar di sekolah itu. Sekolah yang berlokasi di pegunungan.

”Guru kalau diserahi mengajar di SDN Wonorejo IV ini sering kali merasa seperti dibuang. Cemoohan pasti akan dia terima. Itu sebabnya banyak (guru) yang tak mau mengajar di sini,” kata Sutiani.

Lalu, lanjutnya, ”Kalaupun pernah ada (guru), tak bertahan lama karena harus menempuh medan yang berat. Namun, tidak bagi saya karena mengajar di sini justru menjadi tantangan. Anak didik dan keluarganya sangat baik kepada kita. Melihat anak- anak itu rasanya seperti beban utang sudah menghilang.”

Tantangan terbesar Sutiani bukan hanya harus merangkap mengajar di tiga kelas sekaligus. Namun, setiap hari dia juga harus menaklukkan medan berbukit untuk mencapai lokasi sekolah.

Setidaknya tiga bukit di perbukitan Pusung harus dilaluinya dengan berjalan kaki, karena tidak ada angkutan ke lokasi dengan kemiringan lahan mencapai 45 derajat itu. Sekitar 3-4 kilometer harus ditempuh Sutiani setiap hari dengan berjalan kaki.
Beratnya medan pula yang kiranya membuat SDN Wonorejo IV yang dibangun tahun 1988 itu baru direhabilitasi tahun 2008-2009. Siswa di sekolah ini umumnya berasal dari keluarga penduduk setempat.

Jumlah siswanya memang tidak banyak, hanya 34 orang. Rinciannya, kelas I sebanyak 12 siswa, kelas II enam siswa, kelas III empat siswa, kelas IV lima siswa, kelas V tiga siswa, dan kelas VI sebanyak empat siswa.

Dari semua siswa itu pun tidak semuanya kemudian melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Alasan utamanya, lokasi SMP cukup jauh dari permukiman warga. Karena itulah, hanya 1-2 anak lulusan SDN Wonorejo IV yang bersedia melanjutkan pendidikan ke tingkat berikutnya.
Kondisi yang demikian tak membuat dia putus harapan. Untuk membangkitkan semangat anak-anak Pusung agar mau bersekolah, Sutiani mengusahakan selalu mengajar setiap hari.
Bahkan, saat ujian pun, kala dia harus menunggu di sekolah yang lain, Sutiani tetap menyempatkan diri singgah ke SDN Wonorejo IV terlebih dahulu. Ini dia lakukan ”hanya” untuk memberikan suntikan moril kepada para siswa.

Persiapan ujian
Selama persiapan ujian pun Sutiani rela menginap sekitar seminggu bersama para siswa di sekolah. Ini merupakan upaya untuk meningkatkan fokus belajar anak-anak petani yang menjadi muridnya. Selama waktu itu, mereka belajar dan makan bersama di bawah pohon, di sekitar bangunan sekolah.

Bahkan, kalau ada siswa yang harus bergabung mengikuti ujian di sekolah lain (karena siswa di SDN Wonorejo IV terlalu sedikit), Sutiani pula yang menyiapkan seragam inventaris sekolah untuk murid-muridnya. Seragam itu terjaga bersih dan terlipat rapi di lemari sekolah.

”Jangan sampai anak-anak Pusung tampil memalukan di tempat lain. Ini akan membuat rasa percaya diri mereka jatuh sebelum ujian,” ujar Sutiani, yang mengajar di Dusun Pusung sejak tahun 1990 dengan gaji sekitar Rp 7.500 per bulan.

Di luar mendidik secara formal, pada saat jam istirahat Sutiani masih menyempatkan diri mengajarkan cara melipat dan menyetrika baju bagi siswa putri. Tujuannya, agar tak hanya kecakapan formal yang dimiliki anak didiknya, tetapi juga kepandaian lain.
Semua itu dilakukan Sutiani dengan senang hati. Ia bahkan tak peduli kalau baru tahun ini dirinya diusulkan mendapat sertifikasi guru, setelah puluhan tahun pengabdiannya. Ia juga bersyukur dengan gaji sekitar Rp 2,7 juta per bulan yang diterimanya saat ini.

Kebodohan
Sutiani bercerita, sejak masih remaja dia memang bercita-cita menjadi guru. Perempuan asal Pasuruan, Jawa Timur, ini sejak kecil telah menjadi anak angkat sebuah keluarga asli Dusun Pusung. Itu sebabnya, dia merasa punya tanggung jawab untuk ikut memajukan warga Pusung.

”Pusung buat saya layaknya tanah kelahiran,” kata Sutiani yang tinggal di Dusun Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Pusung, nama dusun itu, menurut Sutiani, berati kebodohan. Nama itu melekat di kawasan perbukitan tersebut mungkin karena dahulu pendidikan tak menjadi prioritas warganya. Kondisi itulah yang coba didobrak Sutiani.

”Saya mencoba membuat anak muda Pusung mengenal pendidikan. Orang Pusung tak boleh lagi menyerah begitu saja. Meski daerahnya kurang subur, mereka harus pintar,” kata Sutiani menggambarkan tekadnya.

Upaya Sutiani selama bertahun-tahun tak sia-sia. Tahun lalu, meski masih masuk dalam daftar terendah dalam hal kelulusan siswa, nilai kelulusan siswa SDN Wonorejo IV lebih baik dibandingkan dengan sekolah lain yang secara geografis lebih mudah dijangkau.
Dia juga mengajak anaknya, Ratna Meilina Kartikasari yang beranjak dewasa, untuk mencintai SDN Wonorejo IV. Sutiani mengajak sang anak mengajar bahasa Inggris di sekolah itu.

”Kalau mengajak orang lain untuk mengajar di sini, tentu susah. Itulah mengapa saya membawa anak saya mengajar dan mencintai sekolah ini,” ujarnya.
Sutiani layaknya pelita di perbukitan Pusung. Semangatnya telah menghidupkan gairah anak-anak Dusun Pusung untuk terus mengenyam pendidikan dasar.


Sutiani
• Lahir: Malang, 10 April 1966 • Anak: Ratna Meilina Kartikasari • Pendidikan:- SD Negeri Wonorejo I- SMP Muhammadiyah IV- SPG Muhammadiyah III - Diploma II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Malang - S-1 IKIP PGRI Malang • Pengalaman mengajar:- Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda, Desa Kemiri, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, 1986- SD Negeri Kemiri III, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, 1986-1987- SD Muhammadiyah Bumiaji, Kecamatan Batu, Malang, 1987-1988- SD Negeri Wonorejo II, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, 1988-1989- SD Negeri Wonorejo IV, 1990-kini - Tutor buta aksara TNI Angkatan Darat, 1996- Tutor keaksaraan fungsional, 2003- Tutor kejar paket B, 2007-2008- Tutor kejar paket C, 2007-2008- Guru dan pendiri Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Taman Padu Salsabila, 2004 • Penghargaan:- Perempuan Peduli Pendidikan dari Bupati Malang, 2007- Pengabdian guru terpencil dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, 2004


5 komentar:

Gaphe said...

keren yah, meskipun penghasilhan segitu.. tapi tidak menghalangi perjuangan sutiani mendidik anak bahkan sampe mengajar di beberapa tempat berbeda. semoga keikhlasannya menjadi teladan bagi kita semua.
#koq jadi kaya pak ustad yah gw

ria haya said...

iyach...semoga kita dpt mencontohnya

wis wangun kok jadi ustad hihihi

ini patut di contoh :)

ReBorn said...

ah, sedih gue, mbak...
giemana kantor? :p

ria haya said...

@Shudai : iyach :)

@ReBorn : hmmmm...today is sad day...