Ngakak di Trem dan Kabut Papua: Awal Petualangan Grasberg Mine

Akhirnya aku mendapatkan izin untuk berkunjung ke Grasberg Mine. Sebenarnya, tujuan utamaku hanya satu: menjejakkan kakiku di bumi Papua dan melihat tempat adikku bekerja. Sisanya? Bonus. Keberuntungan.

Dua minggu sebelum keberangkatanku, adikku sempat bilang kalau tidak ada jadwal Grasberg Mine Tour di tanggal-tanggal kunjunganku. Aku santai saja. “Tidak apa-apa, yang penting aku ke sana,” kataku. Aku tidak mau mengubah tanggal atau menunda kunjungan ke pertengahan bulan Ramadhan. Tapi ternyata, adikku masih berusaha—dan berhasil! Berarti, ya, aku beruntung. 😊

Pukul 6 pagi, aku sudah harus siap berangkat melewati HEAT Road. Sebenarnya, kondisi badan harus fit karena tekanan udara tinggi di sana… tapi flu-ku makin menjadi. Tapi bukan alasan untuk mundur. Aku harus memakai helm, kacamata, rompi, sepatu khusus pertambangan, dan tentu saja jaket tebal yang menjaga hangat tubuh dari udara super dingin. Hasilnya? Badanku jadi seperti bola, tinggal menggelinding saja.

Perjalanan menuju sana ditempuh dengan Toyota Land Cruiser, dikemudikan oleh pengemudi bersertifikat khusus untuk HEAT Road. Jalan ini memang diperuntukkan bagi kendaraan besar yang mengangkut suku cadang alat-alat berat menuju wilayah Grasberg.


mobil yang kami naiki

Jalannya… mantapz! Berkelok-kelok, dengan kanan-kiri perbukitan, tebing, dan jurang curam. Kondisi jalannya? Tidak kalah dengan off-road: berbatu, berlumpur, jadi sabuk pengaman benar-benar wajib terpasang.

Di HEAT Road, kami juga harus berbagi jalan dengan kendaraan besar: truk angkut (haul truck), grader, dozer, dan entah apa lagi namanya. Jarak antar kendaraan minimal 50 meter, kecepatan sudah diatur ketat. Setiap kali menjumpai belokan, mobil berhenti sejenak untuk memastikan tidak ada kendaraan lain melintas dari arah berlawanan.

Hujan rintik-rintik dan kabut tebal menambah sensasi perjalanan. Sesekali, pemandangan indah muncul dari singkapan kabut—beberapa air terjun yang cantik terlihat, dan banyak aliran air jernih mengalir menuruni bukit. Aku menyebutnya “SLD” alias Single Line Drain, hehe.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba matahari menembus kabut. Ah… leganya! Kini puncak gunung terlihat jelas, dengan latar langit biru bersih. Subhanallah… rasanya semua perjuangan melewati jalan menantang ini terbayar lunas.



HEAT Road

Oh iya, sebelum memasuki HEAT Road, kami harus melewati check point. Petugas akan memeriksa apakah kami memenuhi syarat dan memiliki izin masuk ke wilayah tambang. Aku keluarkan Visitor ID—ini loh, bayar 200 ribu rupiah untuk mendapatkannya—beserta semua surat izin lainnya.

Petugas mengecek data, lalu tampak di layar monitor: “Access Granted.” Wew… rasanya seperti adegan di film-film yang pernah saya tonton! Hahaha, sensasi yang bikin deg-degan tapi juga senang.


papan berisi aturan


Sekitar satu jam perjalanan, kami sampai di perkantoran atas dengan ketinggian sekitar 4.000 mdpl. Tampak pegawai tambang sedang sarapan… wah, bapak-bapak semua. Aku baru melihat satu cewek berwajah Papua selain aku, adikku, dan temannya. Saat kami lewat, bapak-bapak itu menyapa, “Selamat pagi…” Aku membalas dengan salam plus cengar-cengir. Ah iya, aku lupa—aku kan memakai rompi dengan tulisan salah satu departemen mereka. Mungkin mereka mengira aku pegawai juga, hihihi.

Jadwal kunjunganku baru dimulai jam 10 pagi. Sambil menunggu, aku keliling kantor dan sekitarnya, tentu saja sambil jeprat-jepret memfoto. Setiap bertemu bapak-bapak tambang di luar kantor—mungkin pekerja lapangan—mereka selalu menyapa, “Selamat pagi…” Ramah sekali! Berbeda jauh dengan kantor di Jakarta yang cuek-cueknya minta ampun.

Karena jam 10 masih lama, aku diajak jalan-jalan ke area tambang lama Gunung Bijih Timur (GBT) atau Ertsberg, naik trem atau kereta gantung. Trem ini dipakai untuk mengangkut karyawan dan material dari Concentrating Plant di Mile 74 menuju GBT, dengan perbedaan ketinggian sekitar 700 meter.

Ada dua trem yang dioperasikan. Trem 1 menampung 80 orang dan sekaligus angkut barang. Trem 2 mampu membawa 100 karyawan. Sepertinya aku menaiki Trem 2. Jadilah kami bertiga cewek naik trem, sementara penumpang lainnya kebanyakan pria. Tentu saja banyak komentar, digodain dan dibecandain. “Haaa… mau main-main saja nih cewek-cewek.” Kami cuma cengar-cengir sambil berdiri di pojokan trem, menikmati pemandangan yang sesekali muncul dari balik kabut tebal.

Busyet… tremnya bau jengkol! Pegawai bilang kadang ada yang jahil membawa petai atau jengkol. Wah, jahil banget ni bapak-bapak.

Tidak sampai lima menit, trem sampai di pabrik pengolahan, tapi kami tidak ikut turun. Kami akan naik lagi dengan trem yang sama untuk menjemput karyawan lain. Trem seharusnya kosong, tapi ternyata masih ada kami bertiga. Tidak boleh naik sendirian, minimal dua orang. Agak ngeri juga, karena tampak seperti trem akan menabrak bukit batu saat naik. Tapi mumpung kosong, aku jeprat-jepret lagi sambil narsis. Pas tadi rame-rame, setiap kali foto selalu disorakin.


Waktu sampai di atas lagi, eh… kami disoraki ramai-ramai oleh bapak-bapak yang akan naik trem. Ingat, satu trem bisa muat 100 orang! Hebohnya bukan main, huuuu… huuu… huuuu! Kami cuma ngakak-ngakak sambil ngabur. Sepertinya kami jadi sumber hiburan pagi mereka.

Cuaca di sini juga ekstrim. Sebentar terang, sebentar hujan, sebentar berkabut—tidak bisa diprediksi. Mulutku sampai mengeluarkan embun karena dingin yang menusuk.

Aku jadi berpikir, wah, berat juga ya bekerja di sini. Tiap hari makan nasi kotak, menghadapi cuaca yang tidak menentu. Bahkan katanya, pernah ada hujan es, salju, dan angin kencang di waktu-waktu tertentu.







Galeri Foto :

pabrik pengolahan...wow luasss (pemandangan yang terlihat waktu naik trem)

diapit perbukitan

papasan dengan truk gede (difoto dari dalam mobil)
parkiran
negeri di atas awan ^_^



area tambang lama

Comments

zan P O P said…
foto2 pemandangannya bagus - bagus ya, apalagi yg negeri diatas awan ^_^'
ria haya said…
@Zan : hehehe... salam kenal Zan ^_^
putiL said…
kayaknya seru nih... jadi pengen ke sini juga... kunjungin spupu :D
Rawins said…
lubang pit bekas galian sampai sedalam itu
parah banget memang perampokan kekayaan alam bumi indonesia ini
termasuk aku juga ikut jadi perampok
hiks..
ria haya said…
@pri crimbun : kalau cuma untuk jalan2 sich emang seru, ga tau ya kalau yg kerja hehehe

@Rawins : iya Mas, itu belum Grasbergnya.
yach daripada dirampok org luar negeri doank, biar tambah rame org dlm negeri ikutan :p (#toyor-toyor)
Una said…
Emang ada turnya gitu di Grasberg? Pengen ke sana jugaaaa...
Ibuku pernah dan gak ngajak-ngajak. Dia cerita katanya gak boleh lari-lari di sana, karena oksigennya dikit. iya po mbak?
ria haya said…
@Sitti Rasuna Wibawa : ada, tapi hari2 tertentu aja, week end gitu. Ada guidenya juga. Tinggal urus ijin2nya aja ke pihak yg berwenang di sana. Tapi kalau sekarang kayaknya ga ada, lha lagi rusuh mulu tuch aku liat di TV . Mo lari2 boleh aja kalau kuat, and balapan ma haul truck huahahaha

My Popular Post

RANGKUMAN DAFTAR GAJI

The Black Country

Bahasa Indonesia di mata Malaysia