Berusaha Seimbang

8/13/2015 12:07:00 AM ria haya 0 Comments

Sebelum tidur curhat dulu hehehe
Postingan lama #latepost

Seberapa lama sich kita setiap harinya menghabiskan waktu di depan layar? Entah itu layar handphone, komputer, laptop, atau televisi?
Sewaktu masih bekerja kantoran dulu yang jelas 8 jam dalam sehari wajib di depan layar komputer. Di kantorku yang pertama malah login ke software yang dipakai minimal harus 7,5 jam. Jadi perusahaan hanya mentoleransi kurang dari 30 menit (0,5 jam) saja. Lebih dari itu maka akan ditanyakan waktu yang digunakan untuk apa saja? Dan alasannya harus bisa dipertanggung jawabkan. Setelah pulang kerja, masih membuka laptop, karena harus mengerjakan tugas kuliah. Paling tidak 2-5 jam. Sambil menonton televisi. Kerja sambil kuliah itu memang sangat melelahkan. Belum lagi melihat handpone serta membaca buku, majalah, dan bacaan lainnya. Wajar saja jika saya akhirnya harus memakai kacamata.

Ketika pindah perusahaan, tidak jauh berbeda. Bedanya saya sudah lulus kuliah dan jarang membaca buku. Tapi tetap saja mata hanya beristirahat beberapa jam saja ketika tidur. Beban kerja bertambah banyak, dan itu berarti semakin lama mata menatap monitor. Kehadiran smartphone yang semakin canggih, membuat kita kadang-kadang tambah lama menatap layar handpone. Grup BBM dan WA waktu itu sedang jadi tren. Pada awalnya saya tidak ikut-ikutan. Tetapi karena desakan dari sana-sini  dan karena kebutuhan  akhirnya saya membeli handphone baru (eh smartphone atau android yah? :D ). Itupun saya membelinya menunggu bonus pertama saya cair. Smartfren Andromax U Limited Edition. Kubeli di Cellular Show d JCC, mumpung banyak promo. Lumayanlah... dengan harga hanya 1,5juta, menurutku sudah cukup canggih fiturnya. Hampir 3 tahun saya menggunakan HP itu sampai sekarang. Walau sudah agak sering error, tapi saya masih enggan menggantinya dengan yang baru.

Dan begitu ikut grup...otomatis setiap kali membuka HP, jumlah pesan sangat banyak. Saya bukan tipe orang yang ‘sadar’ HP. Dari waktu saya masih bekerja di perusahaan lama, HP biasa disilent, agar tidak mengganggu konsentrasi bekerja. Bahkan getarnyapun saya matikan.  Jadi kadang kalau ada telponpun saya tak tahu hahahaha. Sering tidak terangkat jika sedang konsentrasi melakukan sesuatu. Kalau itu telepon penting pasti mereka akan berusaha menelepon lagi. Bos biasanya akan menelepon ke telepon kantor di meja sekretaris atau telepon asisten manajer, dan mereka akan memanggil saya untuk menerima telepon.
Saya hanya memberikan perhatian penuh ke HP saya jika menunggu kabar penting, misalnya menunggu panggilan kerja huehehehe.Semua notifikasi grup juga saya silent (mute 1 year). Saya akan membacanya jika ingin saja. Herannya adalah grup rame malah pada waktu jam kerja. Sampai saya berpikir, mereka nih pada kerja atau engga sich? Hadeeuuhh...

Jika notifikasi pesan di grup terlalu banyak, dan saya sedang sibuk dikejar deadline maka saya tidak akan membacanya. Hanya melihat sekilas saja. Jika ada teman yang mempunyai urusan penting dengan saya, tentunya dia akan mengirim private message atau telepon langsung.
Saya akan membaca grup jika load pekerjaan tidak terlalu banyak, atau saya sedang sebal terhadap sesuatu atau sangat jenuh saja. Gila kerja? Tidak juga. Saya hanya berusaha profesional dan bertanggung jawab.

Dan ketika tidur, saya berusaha untuk mematikan koneksi internet atau data agar tidak terganggu. Kecuali jika memang saya sedang ingin chat atau ngobrol dengan teman-teman.
Saya tidak mau terlalu asik dengan gadget saya sendiri hingga melupakan dunia nyata. Dimana-mana orang menunduk, memakai earphone, seolah tidak peduli dengan sekitarnya. Di bis dan kereta yang penuh, di jalan yang ramai, dan lain sebagainya. Kadang saya juga melakukannya, tetapi saya tidak ingin hal tersebut menjadi kebiasaan.

Waktu bekerja di Jakarta saya sering berfikir, apa yang saya cari dengan ini semua? Kehidupan sosial bermasyarakat yang nyata seperti menghilang. Bahkan di kos kebanyakan orangnya sekarang cuek-cuek. Saya juga bukan termasuk sosialita Jakarta.
Jenuh tingkat tinggipun menghampiri saya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk benar-benar pulang kampung. Kebetulan waktu itu mendapat tawaran kerja dari beberapa teman, tapi saya hanya ingin pulang kampung, jadi saya menolaknya.  Saya ingin ganti suasana dan kembali hidup normal bermasyarakat. Bahkan tawaran proyek di Malaysiapun saya tolak. Saya benar-benar merasa lelah dan ingin menyingkir dulu ke pedesaan. Heran, di saat saya ingin kembali ke desa, malah datang tawaran kerja.

Tapi alhamdulillah, teman saya sekaligus mantan bos menawarkan proyek di Jawa, dan saya bisa mengerjakannya dari rumah dengan tim saya sendiri. Pekerjaan itulah yang sekarang saya lakukan. Memang tidak setiap bulan gajian, tapi setidaknya saya masih bisa menabung.
Kembali lagi ke smart phone atau HP.
Setelah kembali ke desa, saya belajar menyesuaikan diri lagi hidup bermasyarakat. Individualis ala kota harus dibuang jauh-jauh. Walau kehidupan ala kota dan kekinianpun sudah memasuki desa. Anak-anak ABG hampir semuanya mempunyai smartphone, dan warnet hampir selalu penuh. Selfie di mana-mana. Ampooon....

Di rumah saya berusaha untuk tidak terus menerus menatap layar, kecuali jika memang dikejar deadline tanpa bisa ditawar, mau tidak mau membawa saya kembali ke kebiasaan di Jakarta. Lembur menatap monitor. Tapi menatap layar HP dan televisi dikurangi. Tidak mudah memang, tapi diusahakan. Usaha saya diantaranya adalah :
  1. Meluangkan waktu lebih banyak untuk mengobrol dengan keluarga atau lainnya tanpa memegang atau menatap layar gadget. Saya sendiri suka sebal jika sedang mengobrol dengan teman, tetapi dia bolak-balik menatap layar HP, dan saya harus menghentikan obrolan ketika dia asyik dengan gadgetnya. Jadi kadang saya merasa dicuekin. Yah sepertinya memang benar, smartphone itu menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh.
  2. Tidak membawa gadget kemana-mana, karena akan mengalihkan fokus pada apa yang sedang kita kerjakan. Di rumah saya meletakan HP di kamar, dan masih dalam keadaan silent. Saya tidak mau terganggu dengan semua notifikasi pesan dan medsos. Saya akan membacanya jika saya ingin. Dan hanya mengeceknya sesekali saja jika ada yang penting atau waktu luang. Dan jika ada missed call, saya akan menelepon balik atau mengirim private message. Jika nomer tidak dikenal, akan saya biarkan saja. Soalnya seringnya dari penawaran kartu kredit atau asuransi.  Jika penting pasti dia akan mengirimkan pesan. Hahahaha
  3. Saya membawa HP jika bepergian. Itupun internet saya matikan, karena baterai boros. Saya malas membawa power bank. Berat! Saya membawa HP jika sedang bepergian  lebih sering untuk memotret pemandangan atau suatu hal yang menurut saya tidak biasa. Tentu saja hal yang utama adalah untuk menelepon dan menerima  jika ada hal yang penting. Jika ada BBM atau WA saya akan membacanya jika sekiranya baterai HP masih cukup penuh. Saya lebih suka melihat pemandangan atau melihat tingkah laku orang lain, daripada hanya sibuk menatap layar HP. Sayang juga kalau ada orang ganteng lewat, kita melewatkannya begitu saja gara-gara asyik dengan layar HP wkwkkw. Walau saya bukan orang yang supel, tetapi jika diajak mengobrol saya akan berusaha menanggapinya. Kecuali jika saya tidak suka temanya ahahaha


Yah pada intinya gadget digunakan seperlunya untuk hal yang bermanfaat atau hiburan saja sesekali, tanpa lupa untuk bersosialisasi (interaksi sosial). Jangan sampai kita diperbudak. Saya tidak anti internet atau smartphone, karena saya memerlukan koneksi internet jika sedang bekerja.

“Smart phone and dumb people”
Hmmmm...jangan sampai dech


“When you’re too busy looking down, you don’t see the chances you miss
So look up from your phones, shut down those displays
We have a finite existence, a set number of days
Don’t waste your life getting caught in the net
because when the end comes, nothing’s worse than regret”

0 komentar: