Side Project di Kampung: Memimpin Tim Muda dan Menaklukkan Deadline

Semilir angin dingin bulan Agustus masuk melalui jendela kamarku. Segar, menenangkan, tapi kadang bikin mengantuk juga. Tidak kalah dingin dengan AC di kantorku dulu. Kalau mau, aku bisa saja berbaring sebentar di belakang meja kerjaku, meluruskan punggung, dan menutup mata beberapa menit. Tapi pagi ini aku punya rencana lain. Setelah menunaikan ibadah, aku langsung membuka laptop. Menyicil pekerjaan sedikit demi sedikit, karena sinyal internet di pagi hari cukup stabil.

Awalnya, aku ingin berolahraga, tapi udara dingin dan gelapnya pagi masih terlalu menggoda untuk tetap di rumah. Jadi, aku duduk di depan laptop, sesekali menengok ke halaman belakang rumah. Pepohonan hijau di sekitar, hembusan angin pagi yang menyegarkan, dan suara dedaunan yang bergesekan memberikan rasa damai yang berbeda. Kalau sudah terlalu kedinginan, aku bakar dedaunan kering yang berserakan, sekalian menghangatkan diri. Kadang kalau ada ubi atau singkong yang menunggu, ikut kubakar juga, sambil tersenyum sendiri memikirkan sederhana tapi menyenangkan rasanya hidup di desa.



Pemandangan di kebon belakang rumah


Ini bulan ke-8 aku bekerja di proyek ini dari kampung. Awal tahun baru, aku memutuskan untuk ikut serta dalam proyek pilot bersama teman-temanku. Syaratnya, aku boleh mengerjakan dari kampung, datang ke Jakarta hanya jika training atau meeting tidak bisa diwakilkan. Bayaran? Aku belum terlalu memikirkannya. Yang penting aku ingin mencoba sesuatu yang baru dan menyalakan kembali semangatku yang sempat pudar di Jakarta.

Awalnya, ayahku skeptis. Risiko, ketidakpastian, dan pengalaman sebelumnya membuat beliau khawatir. Tapi aku berhasil meyakinkan beliau. Kalau tidak dicoba, aku tidak akan pernah tahu hasilnya. Siap rugi pun aku, asalkan ada pelajaran yang bisa diambil. Lagipula ini kesempatan belajar, memimpin, dan mengatur proyek dari nol.

Proyek pertamaku berjalan lancar. Aku mengerjakannya bersama adikku, sekaligus membimbing beberapa anak muda tetangga. Tidak harus sarjana, cukup mereka bisa membaca, menulis, dan memahami instruksi. Kriteria utamanya: pekerja keras, jujur, mau belajar, disiplin, dan tangkas. Kadang perlu motivasi ekstra, karena semangat awal mereka naik turun. Tapi melihat antusiasme mereka menyelesaikan tugas membuat lelahku hilang seketika.

Memang awalnya agak sulit mencari partner. Banyak yang mundur begitu mendengar bayaran, terlalu banyak pertimbangan, atau terlalu fokus pada gengsi dan impian besar. Tapi Alhamdulillah, aku berhasil menemukan beberapa anak muda yang mau bekerja keras, mau belajar hal baru, dan tidak terlalu memikirkan bayaran kecil. Dua mahasiswa, satu lulusan SMA, satu lulusan STM—semuanya bekerja di lapangan. Adikku menjadi team leader mereka, membimbing sampai mereka bisa bekerja mandiri. Aku fokus mengolah data di rumah, sekaligus QC hasil kerja mereka, memperbaiki kesalahan, dan memastikan semuanya sesuai standar klien. Petunjuk dan aturan dikirim via email, lengkap dengan tutorial software.

Kenapa memilih mahasiswa daripada sarjana baru lulus? Banyak yang menolak karena ingin hasil instan, terlalu banyak menghitung bayaran kecil, atau terlalu mementingkan gengsi. Prinsipku sederhana: bekerja dulu, belajar dulu, pengalaman akan membuahkan hasil dan bayaran yang layak datang belakangan. Kadang besar-kecil itu relatif, bukan?

Rutinitas harianku cukup padat. Laptop di depan, data yang terus berdatangan, QC hasil kerja anak-anak muda, sambil membimbing mereka lewat WhatsApp atau video call. Kadang lembur hingga larut malam. Tapi semua terasa menyenangkan. Idealismeku mendorongku ingin bekerja total: menyiapkan materi dengan baik, memeriksa hasil, memberi feedback personal, dan tetap memastikan proyek berjalan sesuai standar.

Aku bersyukur bisa bekerja dengan tim yang semangatnya tinggi, berdedikasi, dan mau belajar bersama. Lembur, deadline yang menumpuk, dan tantangan proyek bukan beban—tapi bagian dari pembelajaran dan kesenangan tersendiri. Dengan cara ini, aku merasa produktif, kreatif, dan tetap bisa menyalurkan energi untuk sesuatu yang bermanfaat.

Moga ke depannya proyek ini terus berjalan lancar, aku bisa membimbing lebih banyak orang, dan kami semua bisa berkembang bersama, saling belajar, serta menghasilkan sesuatu yang berarti. Aamiin.


Selamat Siang!

Comments

Semangat hari Senin!
Semangat bekerja!
Semoga sukses selalu, ya...

My Popular Post

RANGKUMAN DAFTAR GAJI

The Black Country

Bahasa Indonesia di mata Malaysia