Nonton Serdadu Kumbang

6/21/2011 11:32:00 PM ria haya 6 Comments

Berawal dari melihat kisah di balik layar film Serdadu Kumbang di televisi yang membuat saya mewek terharu, akhirnya hari ini sepulang dari kantor, saya menonton film tersebut di XXI PV. Saya membayangkan kalau film ini akan membuat saya nangis bombay, seperti waktu saya menonton Laskar Pelangi, tapi ternyata di film ini banyak adegan kocaknya. Entahlah menurut saya film ini lucu, walaupun tetap mengharukan. Banyak  detil-detil di film yang membuat saya dan teman saya ngakak, dan sepertinya kami berdua paling heboh ketawanya, padahal saya ini tipe yang kalem lho :D

Begini ceritanya :

Diawali dengan adegan di sebuah sekolah, tepatnya SD 08. Seorang Ibu (yang diperankan oleh Titi Sjuman), meminta ijin kepada Bpk Guru anaknya yang bernama Amek, agar Amek keluar dari kelasnya sebentar. Rupanya Amek diminta ibunya untuk membacakan surat dari ayah Amek, karena rupanya ibu Amek tidak bisa membaca. Surat itu mengabarkan kalau sang ayah yang menjadi TKI di Malaysia belum bisa pulang. Isi surat itu membuat Amek dan ibunya menangis, karena rupanya sang ayah sudah beberapa tahun tidak pulang (mungkin ini seperti karakter Bang Thoyib yang tak pulang-pulang hihi).

Amek mempunyai dua orang sahabat bernama Umbe dan Acan. Mereka hidup di sebuah perbukitan di Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Amek (yang diperankan oleh Yudi Miftahudin), bocah yang menderita bibir sumbing, tinggal bersama "Inaq" (ibunya) Siti dan kakaknya Minun di sebuah rumah panggung sederhana yang jauh dari kota, sejak ia ditinggal ayahnya Zakaria (Jack) yang diperankan oleh Asrul Dahlan, merantau mengadu nasib ke Malaysia. Ibunya berjualan kecil-kecilan jajanan anak-anak kecil di kolong rumah panggung sederhana tempat mereka tinggal.
Amek mempunyai seekor kuda putih  yang sangat dia sayangi bernama Smodeng.

Hampir setiap hari Amek dan teman-temannya di hukum di sekolah mereka, karena kenakalan mereka, seperti terlambat masuk sekolah, mencuri buah di kebun orang, dsb. Seorang guru mereka yang bernama Alim (Lukman Sardi) menerapkan cara militer untuk mendisplinkan anak-anak ini. Suatu hari sewaktu tidak ada seorangpun yang datang terlambat, Pak Alim sangat senang, dan bersemangat mengajar. Tetapi sewaktu dia duduk, kursinya patah. Tertawalah seisi kelas. Pak Alim pun marah besar dan akan menghukum anak-anak ini tidak boleh mengikuti ulangan. Akhirnya Amekpun mengaku, padahal dia tidak bersalah, agar teman-temannya bisa mengikuti ulangan. Padahal kursi dan meja di sekolah itu memang sudah rapuh, dan perlu segera  diganti dengan yang baru dan kuat.
Menurut saya kondisi di SD tersebut tidak seburuk sekolah Ical di Laskar Pelangi. Sekolah tersebut tidak beda jauh kondisinya dengan sekolah yang ada di kampung saya.

Amek dan beberapa temannya tidak lulus ujian nasional tahun lalu. Sebetulnya Amek adalah anak yang baik, namun sifatnya yang introvert, keras hati dan cenderung jahil, membuat ia sering dihukum oleh guru-gurunya disekolah. Sebaliknya Minun kakaknya, yang  duduk dibangku SMP, selalu juara kelas. Ia juga sering menjuarai lomba matematika sekabupaten. Sederet piala dan sertifikat berjejer diruang tamu mereka. Minun adalah ikon sekolah, kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Suatu hari seorang gurunya yang cantik, berjilbab dan baik hati, tipe seorang guru yang ideal, menanyakan apa cita-cita Amek dan teman-temannya. Semua teman-temannya mempunyai cita-cita. Ada yang ingin jadi penegak hukum karena ingin membunuh penjahat (seharusnya membasmi atau memberantas penjahat hihhi), ada yang ingin jadi kyai karena ingin menangkap hantu, dll. Tetapi Amek, dia bilang tidak punya cita-cita sewaktu dia ditanya gurunya. Walaupun begitu, Amek mahir mengendalikan kuda sehingga selalu menang dalam lomba pacuan kuda yang sering dilaksanakan di kampungnya. Sebenarnya Amek mempunyai cita-cita jadi presenter TV, seperti idolanya Najwa Syihab. Tapi karena bibirnya sumbing mungkin dia malu mengakuinya. Dia selalu update berita di TV, dan sering berlatih secara diam-diam jadi penyiar berita di tempat dia bermain (sepertinya sich di sebuah kandang) bersama kedua sahabatnya

Di luar desa indah yang tertata rapi itu, ada sebuah pohon yang tidak begitu tinggi namun letaknya persis dibibir tebing, menghadap kelaut lepas. Keren banget tempatnya. Orang kampung sekitar menyebutnya pohon cita-cita. Pohon itu memang unik. Hampir disetiap dahan diikat dengan tali yang menjulur kebawah karena ujungnya diberi pemberat. Secarik kertas bertuliskan nama seseorang berikut cita-citanya, dan dimasukan ke dalam botol berwarna - warni dan digantung di pohon tersebut. Amex, Minun dan teman-temannya sering berada di pohon itu untuk ‘nongkrong’ atau mendengarkan cerita-cerita serta petuah Papin, kiai setempat (diperankan dengan santai, natural dan penuh karisma oleh Putu Wijaya). 

Beberapa adegan kocak dalam film Serdadu Kumbang ini diantaranya adalah sewaktu Amek menukar kambingnya dengan sebuah handphone. Dengan bermodalkan Rp. 5.000; dia membeli kartu perdana yang sekaligus "membeli" sinyal, karena di kampungnya di Mantar sangat sulit berkomunikasi menggunakan HP, karena sinyalnya lemah. Bahkan untuk menelepon harus naik ke sebuah pohon yang tinggi untuk mendapatkan sinyal. Kemudian dia memasang antenna untuk menangkap sinyal di rumahnya, dan dengan modal pulsa 2000 rupiah dia mencoba menelepon ke Malaysia mencari ayahnya. Dan sewaktu dia baru berkata ‘Hallo’, pulsanya abis hihihi. Dan banyak adegan kocak lainnya di scene perHPan ini.

Adegan kocak yang lain muncul ketika Zakaria (Jack), ayah Amek pulang setelah merantau selama tiga tahun di Malaysia. Dengan gaya rambut yang direbonding dan memikul tape recorder yang dibunyikan dengan volume keras melantunkan lagu dari Siti Nurhaliza (saya lupa judulnya, tapi saya bisa menyanyikannya :D), ia menyapa warga dengan dialek Malaysia yang kental. Sebuah kalung dan jam tangan Rolex emas besar ia pakai untuk menunjukan keberhasilannya bekerja di negeri seberang. Belakangan diketahui kalau barang-barang itu palsu dan membawa masalah baru bagi keluarga Amek. Amek harus merelakan kuda kesayangannya diambil untuk menebus kelakuan ayahnya yang menipu pedagang jam.

Amek, Acan, Umbe, Minun dan anak-anak sekolah Mantar sangat dekat dengan Guru Imbok yang diperankan Ririn Ekawati. Ia merupakan guru favorit yang paling mengerti keinginan anak muridnya. Bahkan ketika menjelang ujian nasional ia memberikan tambahan pelajaran di bawah kolong rumah panggung. Guru Imbok juga dengan sabar mengajari para orangtua penyandang buta aksara di Desa Mantar membaca dan menulis.
Karena pada tahun sebelumnya murid-murid di hampir seluruh Indonesia banyak yang tidak lulus ujian nasional, maka guru-guru SD dan SMP 08 Desa Mantar, tempat Amek dan kawan-kawannya sekolah semakin memperketat sistem belajar dan mengajar. Namun penegakan disiplin yang kaku yang dilakukan oleh Guru Alim  ternyata menimbulkan dampak kurang baik bagi murid-murid yang masih dalam usia pertumbuhan. Paling tidak bagi Ame, Umbe, Dulah, Acan dan Ujang. Kebiasaan Guru Alim yang sering menghukum muridnya yang salah itu mendapat protes keras dari "Papin" (kakek) Haji Maesa yang memerankan tokoh guru agama yang membimbing dan mengajar anak-anak di Desa Mantar pengetahuan agama dan ahlak.
Seperti di Laskar Pelangi, ada beberapa anak dan orang tua yang meminta bantuan doa-doa dari orang pintar agar mereka lulus UAN. Mereka menukar kambing mereka dengan sebungkus kecil garam untuk ditaburkan di depan sekolah pada jam 12 malam. Tetapi tidak dijelaskan mengapa harus seperti itu (salah satu scene yang kocak juga)

Namun rupanya Minun sang kakak yang sudah SMP dan semua temannya tidak lulus UAN. Hal itu membuat Minun sangat sedih. Dengan menunggangi Smodeng dia pergi ke pohon cita-cita. Namun malang, dia terjatuh saat ingin mengambil botol yang dia gantungkan di pohon tersebut. Minun meninggal dan membuat Amek sangat sedih hingga sakit. Minun adalah seorang kakak yang baik dan sangat menyayangi Amek. setiap hari tak bosan-bosannya menyemangati Amek belajar agar dia lulus UAN. Dan karena meninggalnya Minun, pohon itupun hendak dirobohkan. Tetapi di tolak oleh Bu Guru Imbok dan Papin, karena pohon itu tidak bersalah. Yang bersalah adalah orang-orang yang menggantungkan botol di pohon tersebut, dan terlalu berharap pada pohon itu. Hanya botol-botol yang tergantung di pohon itu saja yang dimusnahkan.

Namun, keteguhan hati dan cita-cita tak bisa terkalahkan begitu saja. Dengan pertolongan seorang berseragam PT Newmont Nusa Tenggara bernama Pak Ketut (Surya Saputra), Amex dan teman-temannya kembali dan berjuang meraih cita-citanya di tengah padang ilalang Mantar. Kenapa ada PT Newmont Nusa Tenggara di film ini? Rupanya mereka adalah sponsor utama film Serdadu Kumbang.

Begitulah ceritanya, untuk lebih detilnya silahkan nonton sendiri. Lumayanlah… daripada nonton film hantu hehehe

Seperti film-film sebelumnya seperti Denias, Tanah Air Beta, Alenia Pictures (perusahaan yang memproduksi Serdadu Kumbang) menghadirkan film anak-anak bertema pendidikan, dengan setting di pedalaman Indonesia yang eksotis, dengan pemandangan yang membuat berdecak kagum, saking indahnya,  seperti Papua dan NTT. Film ini lumayan pas dengan kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini. Apalagi sekarang ini masih  ramai kasus Ibu Siami yang melaporkan contek massal di sekolah anaknya. Menurut saya film ini mencoba mengkritisi keadaan atau sistem pendidikan dan sikap masyarakat saat ini. Dan juga mencoba memberi contoh semangat perjuangan dalam meraih cita-cita dalam kondisi yang serba kekurangan. Yach…lumayan mirip Laskar Pelangi

Huwaaa...ternyata panjang juga cerita saya, padahal dah berusaha menyingkatnya. Ya sudahlah, sudah terlanjur hehehe ^^

6 komentar:

Hai, Mbak Ria!
Review-nya bagus. Saya jadi kepingin nonton sendiri..

*mulai buka-buka jadwal show-nya 21*

Ga suka film made indo
wahahaha kebnykn nonton andy lau
jd krng greget liat film indo
toenk xixixi

Rawins said...

pada bae inyong dong...
disini kalo mau nelpon juga suka naek pohon
hahah...

Ardian Bumi said...

pagi ini udah 2 kali baca postingan panjang semua. Cukup membuat mata grrr...
Jadi penasaran pengen nonton filmnya. Hahai..

Gaphe said...

wah ini mah spoiler.. bukan resensi lagi. nggak liat filemnya udah tau jalan cerita komplitnya kayak gimana. hahaaha..

tapi kayaknya emang satu ini beda sama filem-filem Indo yang lain yak?

Ria said...

@Vicky Laurentina : Hi juga Mba Vicky. Makasih. Monggo, lumayanlah ditonton

@Tarry KittyHolic : hahaha, aq juga suka Andy Lau. Tapi kalau ada produk dalam negeri yg berusaha tuk bikin pelem bagus, why not tuk di aprisiasi

@Rawins : hahahha, jgn saingan ma monyet ya Mas Rawins... :D

@Ardian Bumi : saia jg ga nyadar bikin postingan panjang :p, tapi sayang mo ngapus lagi kekekeke

@Gaphe : hahahaha, iya yach, jadi spoiler yach...ben wae lah...Terlalu semangat mbagi ceritanya
hmmm...kalo untuk jenis film bergenre anak-anak dan pendidikan sich sebenarnya ga jauh beda ma pelem2 seperti Laskar Pelangi, Denias, dan pelem lain yg sejenis. Belum ada pembaruan yg benar2 bikin beda. Mungkin memang kondisi negeri kita sendiri masih kayak gini, jadi pelemnya masih mengangkat tema yg sama. Tapi tetep lumayanlah, daripada pelem hantu atau pelem yg isinya cuma pacaran doank :D (just my humble opinion)