Naik Chopper ke High Land (Tembagapura)

Tiba di Bandar Udara Mozes Kilangin, saya langsung menuju Visitor Center. Ruangannya sepi dan dingin—akhirnya jaket wol tebal yang dari tadi ngendon di tas keluar juga dari “persembunyian”.

“Permisi, selamat pagi,” sapa saya ke seorang Bapak berwajah Papua asli yang tampak serius menatap layar komputer. Tidak ada respons. Saya ulangi maksud kedatangan: mau print visitor ID. Masih hening. Oke… salting level meningkat 😅. Akhirnya saya duduk manis di ruang tunggu, mencoba berprasangka baik—mungkin beliau sedang sibuk. Tak lama, dua penumpang pria lain datang dengan keperluan yang sama.

Visitor ID saya sebenarnya sudah jadi dan dipegang adik di high land. Saya hanya perlu print ulang untuk akses naik. Setelah beberapa menit yang terasa lama, Bapak itu akhirnya bicara: sistem sedang gangguan. Deg! Jangan sampai ketinggalan bus atau chopper. Saya segera menyerahkan dokumen kunjungan keluarga dan request flight. Beliau membaca cepat, lalu berkata, “Baik ibu, saya bantu check-in chopper.” Plot twist 😄. Ternyata super helpful! Saya langsung mengikuti beliau—kebetulan saya juga belum tahu lokasi check-in.

Setelah urusan selesai, ritual berikutnya: timbang badan + bagasi, lalu security check lagi. Tinggal menunggu panggilan chopper M3 dengan perasaan agak was-was—kuping masih budeg sebelah, takut tidak dengar pengumuman. Di luar masih gerimis. Kalau sampai batal terbang, saya harus gercep pindah ke konvoi bus.

Alhamdulillah, sekitar 10 menit kemudian panggilan datang. Naik bus sebentar menuju helipad, dan… chopper sudah siap dengan baling-baling berputar kencang, suaranya khas banget—antara tegang dan excited. Pilot dan kopilotnya bule, kata adik sih dari Rusia.

Naik harus sigap—di sini semua serba cepat. Saya dapat kursi dekat jendela. Sabuk pengaman ✔️ headset ✔️. Dan… akhirnya merasakan sensasi naik chopper pertama kali. Seru!

Yang duduk di sebelah saya? Para model cantik yang akan fashion show di Tembagapura. Dari Bandara Soetta mereka memang sudah jadi pusat perhatian 😄. Sepanjang perjalanan sibuk foto-foto pakai BB—bahkan begitu chopper terbang pun tetap eksis. Profesional jadi spotlight di mana saja.

Awalnya langit masih penuh awan, pemandangan di bawah cuma terlihat sekilas—liukan sungai dan potongan jalan. Tapi makin naik, cuaca membaik. Perbukitan hijau terbuka, air terjun jatuh dari lereng, sungai-sungai kecil berkilau. Rasanya seperti masuk ke dunia lain. Papua dari udara itu… magis.

Sayangnya salju di Puncak Jaya tidak terlihat—kata adik kalau langit cerah biasanya bisa kelihatan dari sini. Next time, semoga.

Sekitar 15 menit kemudian, kami mendarat. Dari jendela sudah terlihat adik menunggu di landasan. Turun pun harus cepat—belum sempat bengong lama, penumpang dari high land sudah siap gantian terbang ke low land.

Perjalanan singkat, tapi rasanya seperti melompat dari satu dunia ke dunia lain. 🚁⛰️✨


Chopper yang saya naikin



Pemandangan yang terlihat dari chopper




Huwaaa...akhirnya saya nyampai juga ke Tembagapura. Hawa dingin dan sejuk langsung terasa, begitu saya menginjakan kaki ke tanah.

Tembagapura, kota di sebuah lembah  pedalaman (yg ini gambar dari google ^^)


Dari helipad saya lanjut naik bus menuju mes adik. Langit yang tadi sempat cerah tiba-tiba kembali mendung—gerimis turun lagi seolah menyambut dengan “cuaca khas” Tembagapura yang memang terkenal ekstrem. Dalam hitungan menit suasana bisa berubah total: kabut turun, jalanan jadi becek, dan udara kembali dingin menusuk.

Sepanjang perjalanan, pemandangan lebih banyak didominasi warna abu-abu. Kabut menggantung di mana-mana, menutup sebagian perbukitan. Rasanya seperti masuk ke negeri di atas awan yang selalu basah oleh hujan.

Kalau dihitung-hitung, total waktu tempuh dari kos sampai akhirnya tiba di sini sekitar 15–16 jam. Berangkat pukul empat sore, dan baru benar-benar sampai di Tembagapura sekitar pukul delapan pagi keesokan harinya. Perjalanan panjang yang bukan cuma soal jarak, tapi juga ganti-ganti moda transportasi, antre, menunggu cuaca, sampai adu cepat dengan jadwal.

Lelah? Pasti. Tapi begitu menginjakkan kaki di dataran tinggi ini, rasanya semua terbayar—sebuah titik di peta yang dulu cuma saya dengar namanya, sekarang benar-benar ada di depan mata. 🌫️⛰️🚌

To be continued....  

Comments

Gaphe said…
wuedyaaaaaaaan... baguus bangeet yaah.. mirip di genting highland malaysia, cuman ini lebih asyiik.
nggak salah kalo orang bilang tanah papua tuh tanah surga.. aih, keren. pengen naik chopper juga. seumur2 nggak pernah make kayak begituan. beruntung kamu ri.. bayarnya berapa?
Unknown said…
cool...saya belum pernah naik itu. chopper namanya ya...hiks..mauu

btw itu si bapak cuek amat ditanyain diem aja.
Diah Alsa said…
weww Subhanallah, view nya kereennn banget tuuh..
naik chopper gitu pula, hebat jadi mupeng :D
ria haya said…
@Gaphe : Semua adik yang bayarin, aye gratis aja hehehe. Alhamdulillah, saya juga merasa beruntung, karena tdk semua karyawan di sana bisa naik chopper ^_^

@SCB : saya juga baru pertama kalinya naik chopper Mba.. Iya, emang cuek, tapi baik kok ^^

@Diah : hehehe...iya, emang keren banget view di Papua
nooryanti said…
weeelaaahhh.... wes dolan..nang papua to a'.. suwe ora memantau blog e... ketinggalan berita aku....ora ngajak2 i... ke papua... :D
ria haya said…
hooh yan, ngabisin cuti...sesuk nek dolan meneh tak ajak hehehe :D
dunia tambang said…
Subahanallah, memang Kota Tembagapura menakjubkan.
ria haya said…
@dunia tambang : iya, sejuk dan dingin..dengan pemandangan yang indah
Sari Musdar said…
salam kenal mbak ria, saya pernah kerja di tembagapura

dan saat ini sedang menulis novel kedua tentang tambang dan papua

http://letter-from-field-of-gold.blogspot.com/
ini blog pribadi saya http://sarimusdar.blogspot.com/
ria haya said…
Salam kenal Mbak Sari... wuah mantabz nulis novel euy
moga sukses yah novelnya ^^

My Popular Post

RANGKUMAN DAFTAR GAJI

The Black Country

Bahasa Indonesia di mata Malaysia