Hari ketiga di Tembagapura

6/06/2012 12:22:00 AM ria haya 2 Comments

Baiklah…karena sekarang aku sudah tidak sok sibuk lagi, maka aku putuskan untuk melanjutkan cerita kunjunganku ke salah satu daerah pertambangan terbesar di Papua sana. Aku ke sana pada akhir Juli 2011, wuah hampir satu tahun yang lalu ya… Tapi walaupun sudah lama, aku masih bisa mengingat hampir semua pengalamanku di sana. Itu adalah perjalanan paling jauh dan paling tinggi yang pernah aku alami. Maklum wong ndeso…hehehe

Hari ketiga di Tembagapura
Pagi pada hari ketiga aku di sini, cuaca masih sama saja. Hujan. Rasanya sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur. Hawa pegunungan yang dingin, membuatku enggan melepaskan selimut tebal yang hangat. Lagipula flu-ku masih belum sembuh juga. Tapi masa jauh-jauh, capek-capek plus mahal untuk datang ke sini hanya dihabiskan dengan tidur saja sich, kurang asik bukan...?

Waktu hari pertama di sini sebenarnya sudah sempat jalan-jalan, keliling Tembagapura dan ke Hidden Valley, tetapi naik bis, karena badan masih lumayan lelah akibat perjalanan panjang, ditambah hujan pula. Ceritanya bisa dilihat di sini
Tapi waktu itu belum puas jalan-jalannya, karena baru sekilas saja kelilingnya. Kali ini aku ingin mengelilingi kota ini dengan jalan kaki, dan melihat dengan lebih dekat.

Di Pinggir Jalan

Maka walaupun kedinginan aku tetap beranjak dari tempat tidur, mandi air hangat, dan berpakaian rapi, dan tidak lupa memakai jaket. Agak sedikit manyun waktu membuka pintu kamar, ternyata di luar masih hujan rintik-rintik dan berkabut. Tapi hal itu tidak akan menyurutkan niatku untuk jalan-jalan dan menikmati sejuknya tepatnya dinginnya udara pegunungan atau dataran tinggi ini.
Karena hari ini hari Minggu, kelihatannya hampir semua orang di sini libur dan memilih tinggal di tempatnya masing-masing. Jalananpun tampak sepi, jadi aku bisa foto-foto narsis nich xixixi

Narsis ^_^
Alhamdulillah hujanpun akhirnya reda. Kabut sedikit demi sedikit pergi, walaupun masih ada yang tersisa. Aku mengedarkan pandanganku, menikmati pemandangan yang hijau sejauh mata memandang. Kota kecil ini terletak di sebuah lembah kecil yang rupanya dikelilingi oleh perbukitan. Kanan kiri, depan belakang, yang terlihat hanyalah bukit dan tebing-tebing terjal berlatar belakang langit yang indah, walau agak mendung.

Tebing terjal yang dihiasi air terjun
Jalan di Tembagapura
Jalanan di kota tambang ini naik turun, tapi tidak curam dan tidak sehalus jalan aspal biasa. Ada semacam kerikil-kerikil kecil diatasnya dan basah (agak berlumpur). Mungkin kalau jalannya beraspal halus seperti di kota besar, kendaraan yang lewat akan mudah tergelincir (ini hanya pemikiran bodohku saja lho, bukan anak teknik soalnya, hehehe). Oh, iya aku tidak jalan-jalan sendiri, ada adikku yang menemani layaknya tour guide. Karena kota tambang ini memang sengaja dibangun untuk mendukung operasi tambang, dengan perancangan dan studi kelayakan tentunya, maka tidak heran jika kota ini terlihat rapi tatanannya. Terdapat beberapa tipe bangunan atau gedung di sini, seperti barak  dengan berbagai macam tipenya, sharing house, perumahan (family house), yang sepertinya disesuaikan dengan jabatan para penghuninya. Ada beberapa rumah yang kelihatan sederhana, tapi tampak elegan dan nyaman. Sepertinya terbuat dari kayu, dengan halaman yang tidak terlalu luas, dihiasi dengan berbagai macam bunga warna-warni. Huwa….seperti rumah di negeri dongeng. Ini pasti jenis rumah yang ditempati oleh orang penting atau dengan jabatan tinggi di perusahaan tersebut. Lihat rumah tersebut di sini
Tembagapura
Seperti yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya, walaupun kota ini kecil, tetapi fasilitasnya lengkap dan modern. (Ya iyalah…aku yakin gunung emas yang sudah menjadi kubangan mahabesar itu pastilah bisa untuk membuat berpuluh-puluh kota atau hunian seperti ini bahkan mungkin jauh lebih canggih, atau bahkan mungkin bisa untuk membangun sebuah negara). Upss….kembali ke jalan-jalan… J J
Di Tembagapura tersedia berbagai fasilitas seperti rumah sakit (yang dilengkapi dengan laboratorium radiologi, sarana perawatan gigi, ruang operasi, UGD dan pelayanan 24jam-nya, dll), masjid, gereja, supermarket, sport hall, restoran dan cafe, TV cable, radio, sekolahan, perpustakaan umum, fitness center, bahkan sampai biro perjalananpun ada, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan semuanya bisa dicapai dengan berjalan kaki sekalian olah raga hahaha, walaupun disini juga tersedia sarana transportasi seperti bus yang tidak usah pakai bayar, alias gratis.

Ke-modern-an lainnya yang terlihat di sini adalah pemakaian  personal ID card (Eh, aku sudah cerita dink bagian ini, tapi gak apa-apa ya kalau aku lengkapi J ). Semua data-data para penghuni atau pihak yang berkepentingan di area pertambangan ini disimpan dan dikontrol di database. Pengunjung sepertiku juga harus mempunyai visitor ID. Tidak seorangpun dapat keluar masuk Tembagapura dengan seenaknya (kecuali penyusup atau semacamnya ya hehehe). ID card ini digunakan untuk berbagai macam aktivitas, seperti memasuki supermarket, mess hall, restoran dan cafĂ©, serta semua area check point di sana. Dan lagi-lagi privilege-nya pun berbeda-beda, tidak semua orang bisa masuk ke area-area tertentu (ya iyalah….).

Berkeliling kota dengan berjalan kaki membuat badan menjadi lumayan hangat. Akhirnya bisa melepas jaket juga. O, iya di jalanan tidak jarang aku jumpai para ekspatriat yang lebih memilih berjalan kaki dibandingkan dengan naik bis yang sudah tersedia. Kebetulan aku menjumpai 3 keluarga muda (bule), yang tampaknya menikmati sekali tinggal di pegunungan ini. Anak-anak bule itu lucu sekali dan menggemaskan. Maka akupun memotretnya dari jauh. 

Wong Londo
Setelah lelah berkeliling, jalan-jalanpun dilanjutkan ke Hidden Valley. Aku sudah menceritakan HV ini di postingan sebelumnya. Hujanpun turun lagi, hikz…jadi tidak sempat berjalan-jalan kaki di HV ini. Akhirnya karena perut sudah keroncongan, kamipun mampir ke sebuah tempat makan di shopping familiy, memesan secangkir teh hangat dan sepiring kentang goreng. Lagi-lagi aku menjumpai ekspatriat dan keluarganya di sini.

Perumahan di HV
Sebenarnya kami janjian dengan salah satu teman adik makan siang setelah dia selesai melakukan misa di gereja. Kami ingin mengikuti Sunday Brunch (semoga aku benar nulisnya hehehehe) di sebuah restoran bernama Lupa Lelah Club. Maka dari itu aku berpakaian cukup rapi begini, padahal cuma mau makan siang. Kata adikku begitulah dress code-nya. Dengan membayar sekitar Rp. 150ribu/orang (kalau tidak salah ingat), kami bisa makan sepuasnya di LLC ini (All you can eat dech istilah kerennya). Kebanyakan makanan barat. Aku kurang begitu suka dengan makanan barat, apalagi yang serba daging, rasanya eneg dan mual. Oleh karena itu aku tidak mengambil terlalu banyak makanan, hanya icip-icip saja. Cara makannya pake table manner pula, haduh….ingak inguk dech gue….. Biasa makan ala warteg, eh di tengah pegunungan begini malah pakai table manner dan attitude yang baik. Mana sendoknya segede gaban dan berat, ini sendok apa centong nasi yach? Walaupun aku tinggal di Jakarta, tapi mana pernah makan ala formal seperti ini. Yach itung-itung latihan lah…. Ironis sekali aku malah belajar table manner di kawasan terpencil di tengah pegunungan begini. #Tepok jidat!
Mataku berkeliling mengamati orang-orang yang datang ke LLC ini, wuah rapi-rapi semua …formal bo… (ingat ini di pegunungan dengan ketinggian lebih dari 2000 mdpl). Sebenarnya ingin memfoto suasana di dalam LLC ini, dari makanan-makanan yang disajikan, interior, sampai dengan penampilan orang-orang di dalamnya, tapi aku tidak berani, jadi aku hanya memfoto makanan yang aku ambil sendiri saja hehehe


Di luar pemandangannya bagus. Tampak terlihat air terjun di kejauhan, menghiasi tebing-tebing terjal. Sayang hujan mengguyur kota ini lagi. Selama di sini aku hanya dua kali melihat matahari bersinar cerah.

LLC
Aku tidak bisa menghabiskan makananku. Maaf… Aku hanya mengambilnya, mencicipinya sedikit, kemudian memfotonya. Entah kenapa aku merasa eneg dan cepat kenyang, dan hanya tertarik dengan penampilan makanannya saja yang berwarna-warni dan menggoda selera, tapi tidak cocok dengan lidahku. Coba kalau boleh dibawa pulang, pasti aku akan memasaknya lagi, dengan menambahi dengan banyak cabe dan kecap, jadi oseng-oseng pedas manis hahahahaha.

makanan yang aku ambil

Begitulah ringkasan cerita di hari ke-3 kunjunganku ke Papua. Masih tersisa dua hari lagi yang belum di posting :)

Galeri Foto:

Cerah

Berawan
Berkabut
Mendung & Hujan Rintik-rintik

2 komentar:

Menyenangkan sekali, Mbak, perjalanannya... foto-fotonya juga bagus-bagus, senang saya melihat-lihatnya....

ria haya said...

hehehe, makasih Pak...