Hari ketiga di Tembagapura

Baiklah… sekarang sudah tidak (sok) sibuk lagi 😄, saatnya melanjutkan cerita tentang kunjunganku ke salah satu kawasan tambang terbesar di Papua. Perjalanan ini terjadi akhir Juli 2011—hampir setahun yang lalu. Tapi anehnya, detailnya masih melekat jelas di kepala. Mungkin karena ini perjalanan paling jauh sekaligus paling tinggi yang pernah kualami. Maklum, wong ndeso ketemu pegunungan 😆.

Hari ketiga di Tembagapura

Pagi itu suasananya masih sama: hujan. Udara dingin khas pegunungan bikin selimut terasa seperti sahabat terbaik. Ditambah flu yang belum sembuh, rasanya berat sekali berpisah dari kasur. Tapi masa iya sudah menempuh perjalanan sejauh dan semahal ini hanya untuk tidur? Rugi dong—petualangnya ke mana? 😉

Sebenarnya di hari pertama aku sudah sempat keliling kota sampai ke Hidden Valley, tapi masih versi “drive by”—naik bus, badan juga masih capek, dan hujan terus turun. Hasilnya? Belum puas.

Jadi pagi itu aku memutuskan: harus jalan kaki. Biar bisa lihat lebih dekat, merasakan langsung atmosfer kota di ketinggian lebih dari 2.000 mdpl ini. Meski gerimis masih turun dan udara menusuk, rasa penasaran jauh lebih besar daripada rasa malas. Saatnya menjelajah pelan-pelan, menikmati tiap sudut yang kemarin cuma lewat di balik kaca bus. 🌧️⛰️


Di Pinggir Jalan

Akhirnya, dengan tekad mengalahkan rasa dingin, aku bangun juga dari “zona nyaman” selimut tebal. Mandi air hangat, pakai baju rapi, jaket tentu tidak ketinggalan—armor wajib di udara pegunungan Tembagapura 😄.

Begitu pintu kamar kubuka… hmm, sedikit manyun. Di luar masih gerimis dan kabut tipis menggantung. Tapi ya sudahlah—niat menjelajah tidak boleh kalah sama cuaca. Justru di situlah serunya: berjalan pelan di udara yang super sejuk (baca: dingin), menghirup aroma tanah basah, dan menikmati suasana dataran tinggi yang tidak setiap hari bisa kurasakan.

Karena hari Minggu, kawasan ini seperti kota yang sedang pause. Hampir semua orang memilih stay di dalam. Jalanan lengang, nyaris tanpa lalu lalang kendaraan. Buatku? Ini berkah 😆. Bisa jalan santai tanpa tergesa, berhenti di mana saja, dan tentu… sesi foto narsis tanpa gangguan.

Rasanya seperti punya satu kota kecil di atas awan untuk diri sendiri. 🌫️📸

Narsis ^_^
Alhamdulillah hujanpun akhirnya reda. Kabut sedikit demi sedikit pergi, walaupun masih ada yang tersisa. Aku mengedarkan pandanganku, menikmati pemandangan yang hijau sejauh mata memandang. Kota kecil ini terletak di sebuah lembah kecil yang rupanya dikelilingi oleh perbukitan. Kanan kiri, depan belakang, yang terlihat hanyalah bukit dan tebing-tebing terjal berlatar belakang langit yang indah, walau agak mendung.

Tebing terjal yang dihiasi air terjun
Jalan di Tembagapura
Jalanan di kota tambang ini naik turun, tapi tidak curam dan tidak sehalus jalan aspal biasa. Ada semacam kerikil-kerikil kecil diatasnya dan basah (agak berlumpur). Mungkin kalau jalannya beraspal halus seperti di kota besar, kendaraan yang lewat akan mudah tergelincir (ini hanya pemikiran bodohku saja lho, bukan anak teknik soalnya, hehehe). Oh, iya aku tidak jalan-jalan sendiri, ada adikku yang menemani layaknya tour guide. Karena kota tambang ini memang sengaja dibangun untuk mendukung operasi tambang, dengan perancangan dan studi kelayakan tentunya, maka tidak heran jika kota ini terlihat rapi tatanannya. Terdapat beberapa tipe bangunan atau gedung di sini, seperti barak  dengan berbagai macam tipenya, sharing house, perumahan (family house), yang sepertinya disesuaikan dengan jabatan para penghuninya. Ada beberapa rumah yang kelihatan sederhana, tapi tampak elegan dan nyaman. Sepertinya terbuat dari kayu, dengan halaman yang tidak terlalu luas, dihiasi dengan berbagai macam bunga warna-warni. Huwa….seperti rumah di negeri dongeng. Ini pasti jenis rumah yang ditempati oleh orang penting atau dengan jabatan tinggi di perusahaan tersebut. Lihat rumah tersebut di sini
Tembagapura
Seperti yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya, walaupun kota ini kecil, tetapi fasilitasnya lengkap dan modern. (Ya iyalah…aku yakin gunung emas yang sudah menjadi kubangan mahabesar itu pastilah bisa untuk membuat berpuluh-puluh kota atau hunian seperti ini bahkan mungkin jauh lebih canggih, atau bahkan mungkin bisa untuk membangun sebuah negara). Upss….kembali ke jalan-jalan… J J
Di Tembagapura tersedia berbagai fasilitas seperti rumah sakit (yang dilengkapi dengan laboratorium radiologi, sarana perawatan gigi, ruang operasi, UGD dan pelayanan 24jam-nya, dll), masjid, gereja, supermarket, sport hall, restoran dan cafe, TV cable, radio, sekolahan, perpustakaan umum, fitness center, bahkan sampai biro perjalananpun ada, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan semuanya bisa dicapai dengan berjalan kaki sekalian olah raga hahaha, walaupun disini juga tersedia sarana transportasi seperti bus yang tidak usah pakai bayar, alias gratis.

Ke-modern-an lainnya yang terlihat di sini adalah pemakaian  personal ID card (Eh, aku sudah cerita dink bagian ini, tapi gak apa-apa ya kalau aku lengkapi J ). Semua data-data para penghuni atau pihak yang berkepentingan di area pertambangan ini disimpan dan dikontrol di database. Pengunjung sepertiku juga harus mempunyai visitor ID. Tidak seorangpun dapat keluar masuk Tembagapura dengan seenaknya (kecuali penyusup atau semacamnya ya hehehe). ID card ini digunakan untuk berbagai macam aktivitas, seperti memasuki supermarket, mess hall, restoran dan café, serta semua area check point di sana. Dan lagi-lagi privilege-nya pun berbeda-beda, tidak semua orang bisa masuk ke area-area tertentu (ya iyalah….).

Berkeliling kota dengan berjalan kaki membuat badan menjadi lumayan hangat. Akhirnya bisa melepas jaket juga. O, iya di jalanan tidak jarang aku jumpai para ekspatriat yang lebih memilih berjalan kaki dibandingkan dengan naik bis yang sudah tersedia. Kebetulan aku menjumpai 3 keluarga muda (bule), yang tampaknya menikmati sekali tinggal di pegunungan ini. Anak-anak bule itu lucu sekali dan menggemaskan. Maka akupun memotretnya dari jauh. 

Wong Londo
Setelah lelah berkeliling, jalan-jalanpun dilanjutkan ke Hidden Valley. Aku sudah menceritakan HV ini di postingan sebelumnya. Hujanpun turun lagi, hikz…jadi tidak sempat berjalan-jalan kaki di HV ini. Akhirnya karena perut sudah keroncongan, kamipun mampir ke sebuah tempat makan di shopping familiy, memesan secangkir teh hangat dan sepiring kentang goreng. Lagi-lagi aku menjumpai ekspatriat dan keluarganya di sini.

Perumahan di HV
Sebenarnya kami janjian dengan salah satu teman adik makan siang setelah dia selesai melakukan misa di gereja. Kami ingin mengikuti Sunday Brunch (semoga aku benar nulisnya hehehehe) di sebuah restoran bernama Lupa Lelah Club. Maka dari itu aku berpakaian cukup rapi begini, padahal cuma mau makan siang. Kata adikku begitulah dress code-nya. Dengan membayar sekitar Rp. 150ribu/orang (kalau tidak salah ingat), kami bisa makan sepuasnya di LLC ini (All you can eat dech istilah kerennya). Kebanyakan makanan barat. Aku kurang begitu suka dengan makanan barat, apalagi yang serba daging, rasanya eneg dan mual. Oleh karena itu aku tidak mengambil terlalu banyak makanan, hanya icip-icip saja. Cara makannya pake table manner pula, haduh….ingak inguk dech gue….. Biasa makan ala warteg, eh di tengah pegunungan begini malah pakai table manner dan attitude yang baik. Mana sendoknya segede gaban dan berat, ini sendok apa centong nasi yach? Walaupun aku tinggal di Jakarta, tapi mana pernah makan ala formal seperti ini. Yach itung-itung latihan lah…. Ironis sekali aku malah belajar table manner di kawasan terpencil di tengah pegunungan begini. #Tepok jidat!
Mataku berkeliling mengamati orang-orang yang datang ke LLC ini, wuah rapi-rapi semua …formal bo… (ingat ini di pegunungan dengan ketinggian lebih dari 2000 mdpl). Sebenarnya ingin memfoto suasana di dalam LLC ini, dari makanan-makanan yang disajikan, interior, sampai dengan penampilan orang-orang di dalamnya, tapi aku tidak berani, jadi aku hanya memfoto makanan yang aku ambil sendiri saja hehehe


Di luar pemandangannya bagus. Tampak terlihat air terjun di kejauhan, menghiasi tebing-tebing terjal. Sayang hujan mengguyur kota ini lagi. Selama di sini aku hanya dua kali melihat matahari bersinar cerah.

LLC
Aku tidak bisa menghabiskan makananku. Maaf… Aku hanya mengambilnya, mencicipinya sedikit, kemudian memfotonya. Entah kenapa aku merasa eneg dan cepat kenyang, dan hanya tertarik dengan penampilan makanannya saja yang berwarna-warni dan menggoda selera, tapi tidak cocok dengan lidahku. Coba kalau boleh dibawa pulang, pasti aku akan memasaknya lagi, dengan menambahi dengan banyak cabe dan kecap, jadi oseng-oseng pedas manis hahahahaha.

makanan yang aku ambil

Begitulah ringkasan cerita di hari ke-3 kunjunganku ke Papua. Masih tersisa dua hari lagi yang belum di posting :)

Galeri Foto:

Cerah

Berawan
Berkabut
Mendung & Hujan Rintik-rintik

Comments

Menyenangkan sekali, Mbak, perjalanannya... foto-fotonya juga bagus-bagus, senang saya melihat-lihatnya....
ria haya said…
hehehe, makasih Pak...

My Popular Post

RANGKUMAN DAFTAR GAJI

The Black Country

Bahasa Indonesia di mata Malaysia