Puasa Pertama di Timika
Sekitar pukul 11.30 siang, konvoi akhirnya tiba di Bandara Mozes Kilangin. Tapi perjalanan saya belum selesai—pulang ke Jawa masih besok. Untungnya, adik sudah lebih dulu membooking kamar di Hotel Rimba Papua (kalau tidak salah, dulu namanya Sheraton). Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari bandara, tetapi berjalan kaki sambil menggendong ransel yang terasa makin berat dibanding saat berangkat jelas bukan pilihan bijak—apalagi jalannya sepi… hiiiii.
Kami pun menunggu mobil jemputan dari hotel. Tepat sekitar pukul 12 siang, mobil itu datang. Isinya hanya kami berdua dan seorang ekspatriat yang tadi satu bus dengan kami. Begitu sampai, kesan pertama langsung terasa: hotel ini benar-benar berada di tengah hutan. Pantas saja namanya Rimba Papua—sunyi, hijau, dan serasa jauh dari keramaian kota.
![]() |
| Letak Hotel Rimba Papua dari MKA |
Setelah urusan administrasi di resepsionis selesai, kami langsung menuju kamar—kamar paling ekonomis dengan dua tempat tidur yang sudah lebih dari cukup untuk beristirahat.
Rasa penasaran membuat saya berkeliling sejenak mengamati suasana hotel. Hampir seluruh bangunannya terbuat dari kayu, termasuk lantainya. Alhasil, setiap langkah menuju kamar menimbulkan bunyi berderak yang cukup nyaring, seolah mengumumkan kedatangan kami. Kesan alaminya terasa kuat, hangat, dan unik.
Untuk urusan teknologi, kunci pintunya sudah pakai kartu—canggih banget menurut saya. Maklum, pengalaman menginap di hotel bisa dihitung dengan jari. Saya sampai tidak berani memegang kartunya, takut malah salah pakai (atau “ketelan” mesin pembacanya 😆). Biasanya kalau menginap, semua sudah diurus, saya tinggal ikut saja. Jadi kali ini rasanya seperti belajar hal baru di tempat yang benar-benar baru juga.
![]() |
| Hotel Rimba Papua |
Cuaca Timika siang itu terasa lembap dan gerah—pertanda hujan akan segera turun. Benar saja, sekitar pukul satu siang langit langsung menumpahkan airnya. Karena badan masih menyimpan sisa lelah perjalanan panjang, kami memutuskan untuk beristirahat di kamar sampai waktu Asar.
Sebelum rebahan terlalu nyaman, adik lebih dulu memesan mobil sewaan lengkap dengan sopirnya untuk mengantar kami berkeliling Timika sore nanti, sekalian ngabuburit. Tarifnya Rp60.000 per jam—hmmm… masih lumayan ramah di kantong untuk ukuran perjalanan santai. Di Timika sendiri, tempat penyewaan mobil seperti ini cukup banyak dan uniknya mereka menyebutnya “taksi”. Jadi jangan bayangkan taksi argo seperti di kota besar—ini lebih ke mobil sewaan yang siap mengantar ke mana saja. 🚗🌧️
Setelah urusan belanja beres, perjalanan dilanjutkan ke Kuala Kencana. Rasanya belum lengkap ke Timika kalau tidak mampir ke kawasan ini, walau hanya sebentar. Perjalanan sekitar 30 menit terasa menyenangkan karena jalanannya mulus, diapit hutan lebat di kiri dan kanan—hijau sejauh mata memandang.
Kami sempat berhenti di pintu gerbang menuju area perumahan Kuala Kencana untuk pemeriksaan. Sambil menunggu, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto di tugu selamat datang. Namanya juga teteeppp....narsis… hihihi 📸.
FYI, Kuala Kencana merupakan kota tambang utama yang berada di dataran rendah. Mirip seperti Tembagapura, kota kecil ini punya fasilitas yang lengkap: perkantoran, pusat perbelanjaan, kawasan perumahan, bahkan lapangan golf.
Menariknya, meskipun dikelilingi hutan lebat khas Papua, tata kotanya terasa sangat rapi, bersih, dan modern. Jalan-jalannya tertata, lingkungannya terawat, dan suasananya tenang—kontras dengan bayangan “kota tambang” yang biasanya identik dengan kesan keras dan berdebu. Rasanya seperti menemukan sebuah kota kecil yang tertata manis di tengah pelukan alam.
![]() |
| Foto Udara Kuala Kencana (GE), rapi kan... |
Kami memasuki kawasan Kuala Kencana sekitar pukul lima sore. Wew… suasananya sepi, sampai terasa sedikit ngeri juga. Sambil menunggu waktu berbuka, kami berkeliling dengan mobil menyusuri jalan-jalan lengang itu.
Di sepanjang perjalanan tampak deretan rumah karyawan—ukurannya tidak terlalu besar, tetapi terlihat nyaman, bersih, dan tertata rapi. Hampir semuanya berbahan kayu dengan bentuk melebar ke samping. Sekilas mengingatkan saya pada rumah-rumah di Amerika yang sering muncul di film-film: sederhana, hangat, dan punya halaman yang lapang. Bedanya, yang ini berdiri tenang di tengah hutan Papua, dalam suasana yang sunyi dan syahdu.
![]() |
| Perumahan di Kuala Kencana |
Karena waktu sudah semakin sore, kami hanya berkeliling sebentar tanpa sempat menjelajahi seluruh wilayah. Perjalanan kemudian berakhir di alun-alun Kuala Kencana. Di sekelilingnya berdiri gedung-gedung yang cukup megah—perkantoran, Hero, gereja, dan masjid—semuanya tertata rapi menghadap ruang terbuka yang luas.
Di salah satu sudut saya melihat deretan mess karyawan. Bentuk kamarnya unik, seperti kontainer yang disusun menjadi kubus-kubus. Tepat di belakangnya langsung hutan lebat, lengkap dengan suara satwa yang terdengar jelas dan sukses membuat saya sedikit merinding… hiiii. Tak lama kemudian, tampak sekelompok pria muda keluar dari mess dengan pakaian rapi—koko dan peci—berjalan menuju Masjid Raya Baitur Rahim untuk salat Magrib sekaligus berbuka bersama.
Saya sebenarnya ingin ikut ke masjid itu, tetapi seperti biasa… foto dulu di air mancur alun-alun 😄. Sempat juga terlintas keinginan memotret mess dan suasananya, namun nyali berkata lain—jadi cukup disimpan dalam memori saja.
![]() |
| Alun-alun KK dan sekitarnya |
Begitu melangkah masuk ke Masjid Raya Baitur Rahim, saya langsung tertegun—lho, kok jamaahnya laki-laki semua? Di mana jamaah perempuannya? Di area khusus akhwat hanya ada saya dan seorang anak kecil. Refleks, saya tengok kanan-kiri seperti biasa kalau berada di tempat baru.
Di salah satu sudut, para jamaah pria tampak duduk rapi menikmati hidangan berbuka, dan beberapa pasang mata sempat melirik ke arah saya. Duh, langsung grogi! Tidak terbiasa jadi pusat perhatian, rasanya seperti orang nyasar di masjid sendiri 😅. Apalagi adik sedang libur salat, jadi “tim perempuan” benar-benar tinggal kami berdua—saya dan si kecil itu.
Tak lama kemudian, seorang jamaah pria menghampiri dan dengan ramah mengantarkan hidangan berbuka untuk kami. Sepiring kurma, satu gelas air mineral, dan sekotak makanan yang dari tampilannya saja sudah menggoda. Di tengah rasa canggung, kehangatan itu terasa menenangkan—diam-diam bikin senyum sendiri. 🌙✨
Selesai berbuka dengan kurma yang manisnya pas itu, saya memberanikan diri bertanya kepada salah satu jamaah, “Mas, tempat wudu perempuan di mana ya?” Jawabannya membuat saya sedikit melongo, “Nanti dulu ya, Mbak… wudunya setelah semua bapak-bapak selesai.”
Wew… berarti saya harus menunggu antrean panjang para jamaah pria dulu. Maklum, jalur menuju tempat wudu cukup ramai, khawatir bersenggolan. Alhasil, saya kembali duduk manis—dan lagi-lagi merasa jadi pusat perhatian hanya karena menunggu giliran 😅. Dalam hati mulai deg-degan, semoga saja tidak ketinggalan salat Magrib berjamaah.
Benar-benar pengalaman berbuka puasa hari pertama yang tak biasa. Di tempat yang jauh dari rumah, dengan suasana yang masih terasa asing, ada rasa canggung, lucu, sekaligus hangat yang bercampur jadi satu. Dan momen seperti ini, justru yang paling membekas untuk diceritakan kembali. 🌙✨
Suasananya cukup tenang, hanya beberapa meja yang terisi. Di salah satu sudut tampak dua orang bule asyik menikmati hidangan mereka. Saya membuka daftar menu—hmm… pilihan makanannya dan kisaran harganya ternyata tidak jauh berbeda dengan restoran sejenis di Jakarta.
Tanpa pikir panjang saya memesan nasi goreng Thailand, cumi goreng tepung, dan sepoci Chinese tea hangat. Sambil menunggu pesanan datang, pelayan mengantar hidangan pembuka gratis: semangkuk kecil es cincau yang dingin dan segar. Di tengah udara Timika yang lembap, sajian sederhana itu terasa istimewa dan langsung mengembalikan energi setelah seharian berpetualang.
Makanannya memang lezat, tetapi yang paling membekas justru sepoci Chinese tea-nya. Enak sekaliiiii… Padahal saya bukan penggemar teh, tapi saat itu juga langsung jatuh hati. Rasanya ringan, hangat, dan menenangkan—sampai saya menikmatinya sesloki demi sesloki. Sayangnya, belum sempat menghabiskan semuanya, adik sudah mengingatkan untuk segera bergegas. Waktu sewa mobil hampir masuk jam keempat, padahal rencana awal hanya tiga jam. Hitung cepat: 3 × Rp60.000 = Rp180.000.
Sebelum meninggalkan restoran, kami sekalian memesan beberapa makanan untuk sahur. Maklum, harga makanan di hotel lumayan menguras kantong.
Begitulah cerita puasa pertama saya di Timika setahun yang lalu—penuh rasa, penuh pengalaman baru, dan tentu saja penuh cerita yang masih hangat diingat. Dan hari ini, usia saya bertambah lagi. Saatnya memperbanyak doa, memperbanyak syukur… ^_^ 🌙✨















Comments
kerja disana..?
Lama tak berjumpa kembali di blog ....
Ngabuburit by Blogwalking. Cara unik menahan lapar dan haus selama berpuasa ^ ^
iya, lama nggak ngeblog nich
makasih ya BWnya nyasar kesini ^^