Kompilasi Catatan ke Papua
Tiba juga di bagian yang paling tidak ingin saya tulis: saatnya meninggalkan pulau terbesar di Indonesia ini. Jadwal penerbangan masih sekitar pukul setengah dua siang, sebenarnya masih ada waktu kalau mau keliling Timika sebentar. Tapi karena sedang puasa, kami memilih tidak ke mana-mana—cukup menikmati suasana hotel saja.
Kalau tidak sedang puasa, sepertinya ini momen yang pas untuk wisata kuliner. Dari kemarin sudah membayangkan mencicipi macam-macam makanan di Timika. Ya sudahlah, disimpan dulu keinginan itu—siapa tahu ada kesempatan kembali ke sini.
Akhirnya saya hanya berjalan santai di sekitar hotel sambil foto-foto. Suasananya hijau dan tenang. Di pelatarannya tumbuh banyak pohon besar yang rindang, dan yang menarik, setiap pohon diberi papan kecil berisi nama jenis atau spesiesnya. Rasanya seperti sedang jalan-jalan di taman botani versi mini. Adem, rapi, dan bikin betah.
Langkah saya pelan-pelan, mencoba menikmati sisa waktu yang ada. Dalam hati masih belum rela—perjalanan sejauh dan seberkesan ini rasanya terlalu cepat selesai
![]() |
| Foto dulu di dekat patung suku Kamoro |
![]() |
| Pandanus Tectorius |
Sekitar pukul 11.30 saya meninggalkan hotel. Pihak hotel ternyata sudah menyiapkan mobil untuk mengantar saya ke bandara—gratis pula. Lumayan banget… hehehe. Kalau tidak ada fasilitas itu, sepertinya saya bakal bingung juga. Beda dengan di Jakarta yang relatif “aman” buat jalan kaki ke mana-mana, di sini jalanannya sepi dan angkutan umum pun nyaris tidak terlihat. Jujur saja, jalan sendirian rasanya agak bikin mikir dua kali.
Perjalanan menuju bandara terasa hening. Saya lebih banyak diam, memandangi jalan dan pepohonan yang tadi sempat saya nikmati. Seperti sedang memutar ulang semua potongan perjalanan beberapa hari ini—dari dinginnya Tembagapura, konvoi di tengah kabut, naik chopper untuk pertama kali, sampai momen-momen kecil yang tidak akan saya temui di tempat lain.
Selamat tinggal, Papua.
Perjalanan yang jauh, tinggi, dan penuh cerita. Entah kapan saya bisa kembali menginjakkan kaki di tanah ini lagi. Tapi satu yang pasti—pengalaman ini akan selalu punya tempat khusus di hati.




Comments